AKUNTANSI MANAJEMEN
EVALUASI PUSAT INVESTASI
DOSEN PENGAMPU :
Dina Dwi Oktavia Rini, S.E., M.S.A.
NAMA KELOMPOK :
Dani Purniawan ( 132010200198 )
Novita Wulandarum ( 132010200226 )
Rochmah Ermawati ( 132010200225 )
Hanggy Prayudha ( 122010200075 )
Sandra Yulia Wijayanti ( 132010200204 )
Muhammad Wawan Mei Siswanto ( 132010200167 )
FAKULTAS EKONOMI / PRODI MANAJEMEN / KELAS A - 2 (PAGI) / SEMESTER – IV
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO
KATA PENGANTAR
Kami panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat hidayah dan inayahnya sehingga makalah ini dapat terbentuk sedemikian rupa. Tak lupa kami hanturkan sholawat serta salam kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membimbing kita menuju jalan yang benar.
Makalah ini kami buat dengan sengaja agar acara yang kami rencanakan dapat berjalan dengan lancar tanpa suatu kendala apapun. Harapan kami, semoga makalah ini dapat diterima dan bermanfaat untuk semua masyarakat.
Demikianlah makalah ini kami buat, kurang lebihnya kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kami ucapkan terimakasih atas perhatiannya.
Sidoarjo, 15 April 2015
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
1. PENGUKURAN KINERJA PUSAT INVESTASI DENGAN MENGGUNAKAN LAPORAN LABA RUGI VARIABLE DAN ABSORPSI 1
2. PENGUKURAN KINERJA PUSAT INVESTASI DENGAN MENGGUNAKAN ROI 12
3. KEUNGGULAN ROI 16
4. MENGUKUR KINERJA PUSAT INVESTASI DENGAN MENGGUNAKAN LABA RESIDU DAN NILAI TAMBAH EKONOMI 22
KESIMPULAN 27
DAFTAR PUSTAKA 28
1. PENGUKURAN KINERJA PUSAT INVESTASI DENGAN MENGGUNAKAN LAPORAN LABA RUGI VARIABLE DAN ABSORPSI
Pusat laba dinilai berdasarkan laporan laba rugi. Akan tetapi, laporan laba rugi perusahaan secara keseluruhan tidak terlalu berguna untuk tujuan ini. Ada dua metoda perhitungan laba yang telah dikembangkan yaitu berdasarkan perhitungan biaya variabel dan perhitungan biaya penuh atau absorpsi.
Perhitungan biaya variabel menekankan perbedaan antara biaya manufaktur variabel tetap. Perhitungan biaya variabel yang juga disebut biaya langsung hanya membebankan biaya manufaktur variabel dan ke produksi yang meliputi bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead variabel. Overhead tetap diperlakukan sebagai beban perioda itu dan dibebankan secara total terhadap pendapatan perioda tersebut.
Perhitungan biaya absorpsi membebankan semua biaya manufaktur pada produk, overhead tetap dipandang sebagai biaya produk bukan sebagai biaya perioda. Menurut metoda ini overhead tetap dibebankan pada produk melalui penggunaan tarif overhead tetap yang diterapkan terlebih dulu dan tidak dibebankan sampai produk terjual.
GAAP ( Generally Accepted Accounting Principles ) mensyaratkan perhitungan biaya absorpsi untuk pelaporan eksternal. Sedangkan FASB ( Financial Accounting Standards Boards ) dan IRS ( Internal Revenue Service ) juga lembaga pengatur lainnya tidak menerima perhitungan biaya variabel sebagai metoda perhitungan biaya produk untuk pelaporan eksternal. Informasi seperti ini tidak dapat diperoleh dari perhitungan biaya absopsi. Untuk tujuan internal perhitungan biaya variabel merupakan alat paling efektif untuk manajerial.
1.1 Penilaian Persediaan
Persediaan dinilai atas biaya produk atau produksi. Perhatikan data Fairchild Company.
Data tersebut menunjukkan ada $2.000 unit didalam persediaan akhir ($10.000 - $8.000). tampilan 10-5 menunjukkan cara menghitung biaya persediaan akhir dengan menggunakan biaya absorpsi dan variabel. Pada perhitungan biaya variabel, persediaan akhir hanya mencakup biaya bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead variabel. Tidak dimasukkannya overhead tetap dalam hasil biaya persediaan perhitungan biaya variabel membuat penilaian persediaan yang lebih rendah daripada model absopsi.
1.2 Laporan Laba Rugi Dengan Menggunakan Biaya Variabel Dan Absorpsi
Banyak biaya produksi per unit merupakan dasar bagi perhitungan harga pokok penjualan, metoda perhitungan biaya variabel dan absopsi dapat mengakibatkan angka laba bersih yang berbeda. Tampilan 10-6 menunjukkan cara menghitung harga pokok penjualan dan laporan laba rugi dengan menggunakan biaya variabel dan absorpsi. Pada tampilan 10-6 menunjukkan laba menurut biaya absorpsi adalah $50.000 lebih tinggi daripada perhitungan biaya variabel. Bahkan hanya $200.000 ($25 x $8.000) dari overhead tetap yang dimasukkan dalam harga pokok penjualan pada perhitungan biaya absorpsi; sisa nya yaitu $50.000 ($25 x $2.000) ditambahakan ke persediaan. Tatapi pada perhitungan biaya variabel, semua biaya overhead tetap sebesar $250.000 untuk perioda tersebut ditambahkan ke beban pada laporan laba rugi. Perhatikan penjualan dan administrasi tidak pernah dimasukkan dalam biaya produk. Oleh sebab itu penjualan dan administrasi selalu dikeluarkan dari laporan laba rugi dan tidak muncul di neraca.
1.3 Hubungan Antara Laba Menurut Perhitungan Biaya
Hubungan antara laba menurut perhitungan biaya variabel dan laba menurut perhitungan biaya absorpsi berubah seketika hubungan antara produksi dan penjualan berubah. Guna memahami ini situasinya berubah dari perusahanaan Fairchild, disini menjualan lebih banyak dari yang diproduksi dari persediaan awal dan unit yang diproduksi terjual. Menurut perhitungan biaya absorpsi, unit yang keluar dari persediaan mengandung overhead tetap dari perioda sebelumnya. Oleh karena itu laba perhitungan biaya variabel lebih tinggi dari laba menurut perhitungan biaya absorpsi sebesar jumlah overhead tetap yang mengalir keluar dari persediaan.
Karena itu, laba menurut perhitungan biaya variabel lebih tinggi dari pada perhitungan biaya absorpsi sebesar jumlah overhead tetap yang mengalir ke persediaan. Sebab unit yang diproduksi terjual seluruhnya, perhitungan biaya absorpsi seperti juga perhitungan biaya variabel akan mengakui total overhead tetap perioda tersebut sebagai beban. Hubungan antara produksi, penjualan, dan kedua laba yang dilaporkan disajikan pada tampilan 10-7 perhatikan bahwa jika produksi lebih kecil dari penjualan maka persediaan meningkat. Untuk mengilustrasikan hubungan tersebut coba perhatikan contoh berikut yang didasarkan pada data operasional Belnip Inc pada tahun 2006, 2007, dan 2008.
Biaya variabel per unit :
Bahan baku langsung $4,00
Tenaga kerja langsung 1,50
Overhead variabel (estimasi & aktual) 0,50
Penjualan & administrasi variabel 0,25
Laporan laba rugi yang disusun menurut perhitungan biaya absorpsi dan variabel diperlihatkan pada tampilan 10-8. Pada tahun 2006 loba bersih untuk setiap metoda adalah sama. Kesimpulannya adalah kedua metoda tersebut membebankan jumlah overhead tetap yang sama. Total overhead tetap perioda sebesar $150.000 telah dibebankan, overhead tetap yang diperkirakan adalah ($150.000 / $150.000) unit produksi, selama tiga tahun. Karena overhead tetap aktual per tahun juga $150.000, tidak ada variasi tetap akan overhead per tahun. Selama tahun 2006 total beban overhead tetap menurut perhitungan biaya absorpsi adala $150.000 ( $1 x $150.000 unit yang terjual ). Kedua metoda mengakui beban yang sama akan overhead tetap.
Akan tetapi keadaan 2007 berbeda, dari tampilan 10-8 terlihat bahwa laba menurut perhitungan dari tampilan 10-7 laba menurut perhitungan biaya absorpsi adalah $50.000 lebih besar dari laba menurut perhitungan biaya variabel ($225.000 – $175.000) selisih antara kedua laba ini terjadi karena adanya $50.000 beban overhead tetap.
Pada perhitungan biaya absorpsi, setiap unit yang diproduksi dibebankan $1 overhead tetap. Karena dari $150.000 unit yang diproduksi hanya $100.000 unit yang terjual, sisa $50.000 unit dimasukkan dalam persediaan. Sebanyak $50.000 unit yang menjadi persediaan membawa overhead tatap sebesar $1 sehingga totalnya $50.000.
Overhead $50.000 ini tidak akan diakui sampai semuannya terjual. Menurut perhitungan biaya absorpsi $150.000 overhead tetap perioda dikelopokkan dalam dua kategori $100.000 sebagai beban dan $50.000 sebagai persediaan.
Akan tetapi menurut perhitungan biaya variabel, total overhead tatap sebesar $150.000 diakui sebagai beban biaya perioda. Karena biaya variabel $150.000 diakui sebagai beban overhead tetap. Perhitungan biaya absorpsi hanya mengakui $100.000 laba yang dilaporkan menurut biaya absorpsi $50.000.
Pada tahun 2008, hubungan antara kedua laba terbalik. Perbedaannya sekarang adalah $50.000 menguntunkan untuk biaya variabel. Karena biaya absorpsi haya mengakui $150.000 beban overhead tetap untuk unit yang diproduksidan dujual pada perioda ini, juga mengakui $50.000 overhead tetap yang dikandung unit persediaan produksi pada 2007 dan terjual pada tahun 2008. Disini overhead tetap sebagai beban adalah $200.000menurut perhitungan biaya absorpsi dan hanya $150.000 menurut perhitungan biaya variabel. Perubahan dalam overhead tetap dalam persediaan adalah tepat sma dengan selisih antara kedua laba, perubahan ini dapat dihitung melalui perkalian tarif overhead tetap dengan perubahan total unit persediaan awal dan akhir (merupakan selisih antara produksi dan penjualan). Dengan formula seperti dibawah ini .
X
1.4 Perlakuan Overhead Tetap Pada Perhitungan Biaya Absorpsi
Perbedaan antara perhitungan biaya absorpsi dan variabel terletak pada pengakuan beban yang berhubungan dengan overhead tetap. Menurut perhitungan biaya absorpsi, overhead tetap harus dibebankan pada unit produksi. Pertama bagaimana mengkonversikan overhead pabrik akan jam tenaga kerja langsung atau jam mesin terhadap overhead yang ditetapkan untuk unit yang diproduksi, kedua overhead pabrik yang aktual tidak sama dengan overhead pabrik yang dibebankan.
Masalah pertama dapat diatasi dengan relatif mudah, misalnya overhead pabrik yang ditetapkan atas dasar jam tenaga kerja langsung. Misalnya jam tenaga kerja langsung adalah $2 dan overhead tetap adalah $20 maka ($2 x $20) adalah overhead tetap per unit. Untuk solusi yang kedua membutuhkan pemikiran yang lebih dalam.
1.5 Mengevaluasi Manajer Pusat Laba
Evaluasi para manajer seringkali dikaitkan dengan profitabilitas unit yang dibawah naungan mereka. Misalnya jika seorang manajer telah bekerja keras dan berhasil meningkatkan penjualan, sementara biaya tidak berubah, maka laba harus meningkat lebih dari sebelumnya yang mnegisyaratkan keberhasilan. Secara umum kinerja laba harus mencerminkan kinerja manajerial, dari ini menajerial harus melakukan :
1. Ketika pendapatan meningkat maka laba harus meningkat.
2. Ketika penjualan menurun maka laba akan menurun.
3. Ketika penjualan tidak berubah maka laba akan tetap tidak berubah.
Perhitungan biaya variabel memang memastikan hubungan diatas tetapi menurut perhitungan biaya absorpsi terkadang tidak demikian.
Biaya manufaktur biaya per unit $10 tahun $10 tahun
Produksi 10.000 2007 5.000 2008
Unit terjual ($2.5 per unit) 5.000 10.000
Overhead tetap $100.000 $100.000
Biaya produk menurut perhitungan biaya variabel adalah $10 per unit pada tahu kedua, dan biaya produk menurut perhitungan biaya absorpsi $20 per unit pada tahun 2007 dan $30 per unit pada tahun 2008 [ $10 + ( $100.000 / $10 ) untuk tahun 2005, $10 + $100.000 / $5.000 untuk tahun 2008 ].
Laporan laba rugi menurut perhitungan biaya variabel dan absorpsi disajiukan di tampilan 10-10. Disitu terlihat penjualan meningkat dari $5.000 ke 1$0.000 unit, total biaya tetap dan biaya manufaktur variabel per unit, dan harga jual per unit adalah sama. Jadi kenaikan dua kali lipat dalam penjualan mencerminkan satu satunya perubahan dari satu perioda ke perioda berikutnya.
Menurut perhitungan biaya variabel, laba meningkat $75.000 dari tahun 2007 ke 2008 ( dari rugi $25.000 ke laba $50.000 ), sedangkan menurut perhitungan biaya absorpsi, laba bersih turun sebesar $25.000 (dari laba $25.000 menjadi $0), meskipun ada kenaikkan penjualan. Dari sini semua biaya tidak berubah akan tetapi perhitungan biaya absorpsi tidak mampu menunjukkan berbaikan kinerja.
1.6 Laporan Laba Rugi Segmen Dengan Menggunakan Perhitungan Biaya Variabel
Perhitungan biaya variabel berguna dalam menyiapkan laporan laba rugi segmen, karena perhitungan ini menyediakan informasi penting terkait beban variabel dan tetap. Akan tetapi dalam laporan laba rugi segmen beban tetap di bagi menjadi dua, beban tetap langsung dan beban tatap umum.
Beban tetap langsung adalah : beban tetap yang secara langsung dapat ditelusuri ke suatu segmen. Beban ini sering disebut beban tetap yang dapat dihindari, karena beban ini akan hilang jika segmen ditutup. Contohnya beban pembuatan voucher belanja Carrefour bagi segmen para mahasiswa untuk produk buku tulis berkarakter khusus, maka dari itu jika penjualan buku tulis bagi para mahasiswa dihilangkan maka beban voucher belanja Carrefour juga akan hilang.
Beban tetap umum disebabkan oleh dua atau lebih segmen yang bersamaan, beban ini akan tetap muncul jika salah satu segmen dihilangkan. Contohnya perusahaan Computer Asus memiliki segmen dibidang Notebook dan Motherboard, nah jika usaha Motherboard ini dihilangkan maka akan tetap ada, karena Asus membuat Notebook yang merupakan komponen utamanya adalah Motherboard yang menyatukan segala komponen yang ada di semua Personal Computer.
Laporan laba rugi segmen denganmenggunkanan perhitungan biaya variabel memiliki satu keistimewaan di samping laporan laba rugi perhitungan biaya variabel yang telah disajikan sebelumnya. Pembagian seluruh beban tetap dalam dua kategori: beban tetap langsung dan beban tetap umum, memberikan informasi tambahan bagi manajer. Pembagian tambahan ini menggarisbawahi biaya yang dapat dikendalikan dengan biaya yang tidak dapat dikendalikan dan meningkatkan kemampuan manajer untuk mengevaluasi setiap kontribusi segmen terhadap kinerja perusahaan secara keseluruhan.
Karena beban tetap langsung dapat ditelusuri ke suatu segmen (lini produk dalam contoh ini), beban ini disebabkan oleh keberadaan dari segmen itu sendiri. Jika segmen atau lini produk dihapus, maka beban tetp ini akan hilang. Hal ini memberikan suatu gambaran yang lebih tepat kepada manajer mengenai profitabilitas segmen.
Di lain pihak, beban tetap umum disebabkan oleh dua atau lebih segmen. Jika salah satu segmen ini dihapus, beban tetap umum ini tetap ada – dan dalam tingkat yang sama dengan yang sebelumnya. Pada contoh Audiomatronics, penyusutan pabrik dan gaji supervisor pabrik adalah beban tetap umum. Penghapusan satu lini produk tidak akan menghapus pabrik dan penyusutannya. Supervisor pabrik juga akan tetap dibutuhkan untuk mengawasi produksi lini produk lainnya.
Biaya tetap yang merupakan biaya tetap langsung pada suatu segmen mungkin dapat menjadi biaya tetap tak langsung atau umum pada segmen lain. Sebagai contoh, anggaplah lini produk pemutar MP3 disegmentasi menjdai dua wilayah penjualan. Pada kasus ini, penyusutan peralatan yang digunakan untuk memproduksi pemutar MP3 merupakan beban umum bagi kedua wilayah, tetapi dapat ditelusuri secara langsung ke segmen produk itu sendiri.
2. PENGUKURAN KINERJA PUSAT INVESTASI DENGAN MENGGUNAKAN ROI
Pusat – pusat investasi umumnya dievaluasi berdasarkan pengembalian atas investasi. Ukuran – ukuran lainnya, seperti laba residu dan nilai tambah ekonomi dibahas pada bagian selanjutnya.
2.1 Pengembalian atas investasi
Divisi – divisi yang merupakan pusat – pusat investasi akan memiliki laporan laba rugi dan neraca sendiri. Jadi, dapatkah divisi – divisi tersebut kita peringkat berdasarkan laba bersih? Misalkan, sebuah perusahaan mempunyai dua divisi, yaitu Alpha dan Beta. Laba bersih Alpha adalah $100.000 dan laba bersih Beta adalah $200.000. apakah ini berarti Beta memiliki kinerja lebih baik daripada Alpha? Bagaimana bila Alpha menghabiskan investasi sebesar $550.000 untuk menghasilkan kontribusi $100.000, sementara Beta menghabiskan investasi $2 juta untuk menghasilkan kontribusi $200.000? apakah respons Anda berubah? Jelas bahwa menghubungkan laba operasi dengan aktiva yang digunakan untuk menghasilkannya merupakan suatu ukuran kinerja yang lebih bermakna.
Satu cara mengaitkan laba operasi dengan aktiva yang digunakan adalah dengan menghitung pengembalian atas investasi (return on investment – ROI), yaitu laba yang diperoleh untuk setiap dolar investasi. ROI adalah ukuran kinerja yang paling lazim bagi suatu pusat investasi. ROI dapat didefinisikan sebagai berikut :
ROI = Laba operasi / Aktiva operasi rata – rata
Laba operasi (operating income) mengacu pada laba sebelum bunga dan pajak. Aktiva operasi (operating assets) adalah seluruh aktiva yang digunakan untuk menghasilkan laba operasi, termasuk kas, piutang, persediaan, tana, gedung, dan peralatan. Gambaran aktiva operasi rata-rata dihitung sebagai berikut :
Aktiva operasi rata-rata = (Nilai buku bersih awal + Nilai buku bersih akhi) / 2
Banyak pendapat mengenai bagaimana seharusnya aktiva jngka panjang (pabrik dan peralatan) dinilai (sebagai contoh, nilai buku kotor versus nilai buku bersih atau biaya historis versus biaya berjalan). Banyak perusahaan yang menggunakan biaya historis dan nilai buku bersih. Tidak ada satu cara yang selalu lebih tepat dari cara lainnya dalam perhitungan ROI. Hal yang penting adalah memastikan satu metode diterapkan secara konsisten sepanjang waktu. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk membandingkan ROI antarberbagai divisi sepanjang waktu.
Kembali ke contoh kita sebelumnya, ROI Alpha adalah 0,20 ($100.000/$500.000), sementara ROI Beta hanyalah 0,10 ($200.000/$2.000.000). Rumus ROI cepat dan mudah digunakan. Namun, memerinci ROI dalam margin dan rasio-raio perputaran memberikan informasi tambahan.
2.2 Margin dan Perputaran
Cara kedua untuk menghitung ROI adalah memisahkan rumusnya (Laba operasi/Aktiva operasi rata-rata) dalam margin dan perputaran.
ROI = Margin x perputaran
= Laba operasi x Penjualan
Penjualan aktiva operasi rata-rata
Perhatikan bahwa “penjualan” dalam rumus di atas bisa dihapuskan untuk menghasilkan rumus ROI yang awal, yaitu Laba operasi/Aktiva operasi rata-rata.
Margin adalah rasio dari laba operasi terhadap penjualan. Hal ini menunjukkan jumlah laba operasi yang dihasilkan dari setiap dolar penjualan. Hal ini menyatakan bagian dari penjualan yang tersedia untuk bunga, pajak, dan laba. Perputaran (turnover) adalah suatu ukuran lain yang dihitung dengan membagi pendapatan penjualan yang dihasilkan dari setiap dolar yang diinvestasikan dalam aktiva operasi. Hal ini menunjukkan produktivitas aktiva yang digunakan untuk menghasilkan penjualan.
Anggaplah, sebagai contoh, Celimar Company memperoleh laba operasi tahun lalu seperti yang ditunjukkan pada laporan laba rugi berikut :
Penjualan $480.000
Harga pokok penjualan 222.000
Margin kotor $258.000
Beban penjualan dan administrasi 210.000
Laba operasi $ 48.000
Pada awal tahun, nilai buku bersih dari aktiva operasi adalah $277.000. pada akhir tahun, nilai buku bersih dari aktiva operasi adalah $323.000. Maka :
Aktiva operasi rata-rata = (Aktiva awal + Aktiva akhir)/2
= ($277.000 + $323.000)/2
= $300.000
Margin = Laba operasi/penjualan = $48.000/$480.000 = 0,10 atau 10 persen
Perputaran = Penjualan.Aktiva operasi rata-rata = $480.000/$300.000 = 1,6
ROI = Margin x Perputaran = 0,10 x 1,6 = 0,16 atau 16 persen
Atau
ROI = Laba operasi/Aktiva operasi rata-rata = $48.000/$300.000
Meskipun kedua pendekatan ROI yang sama, perhitungan margin dan perputaran mampu memberikan informasi berharga kepada seorang manajer. Untuk mengilustrasikan informasi tambahan itu, pertimbangkan data yang disajikan pada Tampilan 10-12. Divisi Electronics meningkatkan ROI-nya dari 18 persen pada tahun 1 menjadi 20 persen pada tahun 2. Namun, ROI Divisi Medical Supplies turun dari 18 persen menjadi 15 persen. Gambaran yang lebih jelas mengenai penyebab perubahan ini dapat diketahui melalui perhitungan rasio margin dan perputaran pada setiap divisi. Rasio-rasio tersebut juga disajikan pada Tampilan 10-12.
Perhatikan bahwa margin untuk kedua divisi turun dari tahun 1 ke tahun 2. Kedua divisi sebenarnya mengalami penurunan persentase yang sama (16,67 persen). Penurunan margin dapat dijelaskan oleh pengeluaran yang meningkat, tekanan persaingan (yang memaksa penurunan harga jual), atau keduanya
Informasi untuk Divisi Electronics Dan Divisi Medical Supplies
Divisi Electronics Divisi Medical Supplies
Tahun 1 :
Penjualan $30.000.000 $117.000.000
Laba operasi 1.800.000 3.510.000
Aktiva operasi rata-rata 10.000.000 19.500.000
ROIa 18% 18%
Tahun 2 :
Penjualan $40.000.000 $117.000.000
Laba operasi 2.000.000 2.925.000
Aktiva operasi rata-rata 10.000.000 19.500.000
ROIa 20% 15%
Perbandingan Margin dan Perputaran
Divisi Electronics Divisi Medical Supplies
Tahun 1 Tahun 2 Tahun 1 Tahun 2
Marginb 6,0% 5,0% 3,0% 2,5%
perputaranc x 3,0 x 4,0 x 6,0 x 6,0
ROI 18,0% 20,0% 18,0% 15,0%
aLaba operasi dibagi aktiva operasi rata-rata.
bLaba operasi dibagi penjualan.
cPenjualan dibagi aktiva operasi rata-rata.
Tampilan 10-12 Perbandingan Kinerja Divisi dengan Menggunakan ROI
Meskipun marginnya turun, Divisi Electronics mampu meningkatkan tingkat pengembaliannya. Hal ini disebabkan oleh peningkatan perputaran yang lebih besar daripada penurunan margin. Salah satu sumber dari peningkatan perputaran adalah kebijakan yang sengaja mengurangi persediaan. (perhatikan bahwa aktiva rata-rata yang digunakan tetap sama pada Divisi Electronics meskipun penjualan meningkat $10 juta).
Pengalaman Divisi Medical Supplies kurang menggembirakan. Karena tingkat perputarannya tidak berubah, ROI-nya turun. Divisi ini berbeda dengan Divisi Electronics, tidak mampu mengatasi penurunan marginnya.
3. KEUNGGULAN ROI
Sedikitnya, ada tiga hasil positif dari penggunaan ROI.
1. ROI mendorong manajer untuk fokus pada hubungan antara penjualan, beban, dan investasi sebagaimana yang diharapkan dari seorang manajer pusat investasi.
2. ROI mendorong manajer untuk fokus pada efisiensi biaya.
3. ROI mendorong manajer untuk fokus pada efisiensi aktiva operasi.
3.1 Fokus pada Hubungan ROI
Della Barnes, manajer Plastics Division, sedang mempertimbangkan saran dari direktur pemaarannya untuk meningkatkan anggaran iklan sebesar $100.000. Direktur pemasaran yakin bahwa kenaikan ini akan mendorong hasil penjualan sebesar $200.000. Della sadar bahwa kenaikan penjualan juga akan menaikkan beban. Ia menemukan bahwa kenaikan biaya variabel akan sebesar $80.000. Divisi ini juga perlu membeli mesin tambahan untuk mengatasi peningkatan produksi. Peralatan tersebut memerlukan biaya $50.000 dan menambahkan beban penyusutan sebesar $10.000. Akibatnya, saran tersebut akan menambahkan $10.000 ($200.000 - $80.000 - $10.000 - $100.000) kepada laba operasi. Saat ini, penjualan divisi adalah sebesar $2 juta, beban total adalah $1.850.000, dan laba operasi bersih sebesar $150.000. Aktiva operasi sama dengan $1 juta.
Tanpa Peningkatan Iklan Dengan Peningkatan Iklan
Penjualan $2.000.000 $2.200.000
Dikurangi: Beban 1.850.000 2.040.000
Laba operasi $ 150.000 $ 160.000
Aktiva operasi $1.000.000 $1.050.000
ROI :
$150.000/$1.000.000 = 0,15 atau 15 persen
$160.000/$1.050.000 = 0,1524 atau 15,24 persen
ROI tanpa tambahan iklan adalah 15 persen; ROI dengan tambahan iklan dan investasi $50.000 adalah 15,24 persen. Karena ROI meningkat karena saran ini, Della memutuskan untuk mengizinkan peningkatan iklan. Tanpa saran tersebut, ROI berada pada “tingkat gawang (hurdle rate) saat ini. Istilah ini sering digunakan untuk menunjukkan ROI minimum yang dibutuhkan untuk menerima suatu investasi.
3.2 Fokus pada Efisiensi Biaya
Kyle Chugg, manajer Turner’s Battery Division, kesal ketika mengkaji proyeksi-proyeksi pada semester kedua dari tahun fiskal berjalan. Resesi ekonomi telah mengganggu kinerja divisinya. Penambahan proyeksi laba operasi sebesar $200.000 pada laba operasi aktual semesta semester pertama menghasilkan proyeksi laba tahunan sebesar $425.000. Selanjutnya, Kyle membagi proyeksi laba operasi dengan aktiva operasi rata-rata divisi untuk mendapatkan proyeksi ROI sebesar 12,15 persen. “ini sangat buruk,” gumam Kyle. “ROI kita tahun lalu adalah 16 persen. Saya melihat keburukan beberapa tahun lagi di masa mendatang sebelum bisnis kembali normal. Saya harus melakukan sesuatu untuk memperbaiki kinerja kita.”
Kyle memerintahkan semua manajer operasional untuk mengidentifikasi dan menghapus semua aktivitas yang tidak bernilai tambah. Hasilnya, manajer-manajer dengan jenjang lebih rendah menemukan cara mengurangi biaya sampai $150.000 selama semester kedua. Pengurangan ini meningkatkan laba operasi tahunan dari $425.000 menjadi $575.000 yang meningkatkan ROI dari 12,15 persen menjadi 16,43 persen. Yang menarik, Kyle mendapati bahwa sejumlah pengurangan biaya dapat dipertahankan setelah bisnis kembali normal.
3.3 Fokus pada Efisiensi Aktiva Operasi
Electronic Storage Division menikmati kemakmuran selama tahun-tahun awal berdirinya. Pada awalnya, divisi ini mengembangkan teknologi baru untuk penyimpanan data eksternal; penjualan dan pengembalian atas investasi luar biasa tingginya. Namun, selama beberapa tahun terakhir, pesaing berhasil mengembangkan teknologi yang berdaya saing dan ROI divisi anjlok dari 30 persen menjadi 15 persen. Pada awalnya, pemotongan biaya cukup membantu, tetapi saat semua pemborosan biaya telah dihapuskan, perbaikan lebih lanjut melalui pemotongan biaya tidak dimungkinkan lagi. Selain itu, peningkatan penjualan tampaknya tidak dapat dicapai karena persaingan terlalu tajam. Manajer divisi mengupayakan beberapa cara meningkatkan ROI paling sedikit 3 sampai 5 persen. Hanya dengan meningkatkan ROI, divisi ini dapat mengimbangi divisi lain. Divisi berharap dapat menerima tambahan modal untuk riset dan pengembangan.
Manajer divisi memulai suatu program intensif untuk mengurangi aktiva operasi. Hasil terbesar diperoleh dari pengurangan persediaan. Namun, satu pabrik ditutup karena penurunan jangka panjang pada pangsa pasar. Melalui pengoperasian sistem pembelian dan pengolahan just in time (JIT), divisi mampu mengurangi aktivanya tanpa mengancam pangsa pasarnya yang masih ada. Akhirnya, pengurangan dalam aktiva operasi berarti biaya operasi masih dapat dikurangi lebih jauh. Hasil akhirnya adalah peningkatan 50 persen pada ROI divisi, dari 15 persen menjadi lebih dari 22 persen.
3.4 Kelemahan pengukuran ROI
Penekanan yang berlebihan pada ROI dapat menghasilkan pemikiran yang sempit. Berikut dua aspek negatif ROI yang sering disebutkan.
1. ROI mengakibatkan fokus yang sempit pada profitabilitas divisi dengan mengorbankn profitabilitas keseluruhan perusahaan.
2. ROI mendorong para manajer untuk fokus pada kepentingan jangka pendek dengan mengorbankan kepentingan jangka panjang.
Kelemahan-kelemahan tersebut diilustrasikan oleh dua skenario berikut :
Fokus yang Sempit pada Profitabilitas Divisi Cleaning Product Division berkesempatan melakukan investasi dalam dua proyek pada tahun mendatang. Biaya yang dibutuhkan untuk setiap investasi, tingkat pengembalian, dan ROI adalah sebagai berikut :
Proyek I Proyek II
Investasi $10.000.000 $4.000.000
Laba operasi 1.300.000 640.000
ROI 13% 16%
Saat ini, divisi menghasilkan ROI sebesar 15 persen dengan aktiva operasi $50 juta dan laba operasi atas investasi berjalan sebesar $7,5 juta. Divisi telah mendapat persetujuan menambah investasi sbesar $15 juta pada investasi modal baru. Kantor pusat perusahaan mensyaratkan semua investasi harus menghasilkan laba paling sedikit 10 persen (tingkat laba ini mencerminkan biaya perusahaan untuk mendapatkan modal). Setiap modal yang tidak digunakan divisi akan diinvestasikan oleh kantor pusat dan mnghasilkan laba tepat 10 persen.
Manajer divisi mempunyai empat alternatif, yaitu investasi dalam Proyek I, investasi dalam Proyek II, investasi dalam Proyek I dan Proyek II, atau tidak melakukan investasi pada kedua proyek. ROI dvivisi dihitung untuk setiap alternatif.
Alternatif
Hanya Hanya Memilih Tidak
Memilih Memilih Kedua Memilih
Proyek I Proyek II Proyek KeduaProyek
Laba operasi $ 8.800.000 $ 8.140.000 $ 9.440.000 $ 7.500.000
Aktiva operasi $60.000.000 $54.000.000 $64.000.000 $50.000.000
ROI 14,67% 15,07% 14,75% 15,00%
Manajer divisi memilih investasi hanya dalam Proyek II karena investasi tersebut akan meningkatkan ROI dari 15,00 persen menjadi 15,07 persen.
Meskipun mampu memaksimalkan ROI divisi, Proyek II sebenarnya membebani perolehan laba perusahaan. Jika proyek I yang dipilih, perusahaan akan memperoleh laba $1,3 juta. Dengan tidak memilih Proyek I, modal $10 juta (0,10 x $10.000.000). Akibatnya, perhatian yang hanya ditujukan pada ROI divisi merugikan perusahaan dalam bentuk hilangnya laba sebesar $300.000 ($1.300.000 - $1.000.000).
3.5 Mendorong optimisasi jangka pendek
Ruth Lunsford, manajer Small Tools Division, kecewa dengan kinerja divisinya selama tiga kuartal pertama. Berdasarkan proyeksi laba kuartal keempat, ROI untuk tahun tersebut adalah 13 persen, paling tidak dua persen di bawah harapan. ROI ini mungkin tidak cukup kuat sebagai alasan pendukung bagi promosi yang diinginkannya. Dengan sisa waktu tiga bulan, tindakan drastis haru dilakukan. Kemungkinan meningkatkan penjualan pada kuartal terakhir tidaklah besar. Kebanyakan penjualan dibukukan paling sedikit dua sampai tiga bulan sebelumnya. Penekanan pada kegiatan penjualan ekstra akan bermanfaat untuk kinerja tahun berikutnya. Hal yang diperlukan adalah beberapa cara meningkatkan kinerja tahun ini.
Setelah mempertimbangkan secara hti-hati, Ruth memutuskan untuk menempuh langkah – langkah berikut :
1. Memberhentikan lima pegawai penjualan yang menrima gaji tertinggi.
2. Memotong anggaran iklan kuartal keempat sampai 50 persen.
3. Menunda seluruh promosi pegawai dalam divisi selama tiga bulan.
4. Menggunakan bahan baku yang lebih murah untuk produksi selama kuartal keempat.
Secara keseluruhan, langkah-langkah tersebut akan mengurangi beban, menaikkan laba, dan meningkatkan ROI menjadi sekitar 15,2 persen.
Meskipun tindakan Ruth bisa meningkatkan laba dan ROI dalam jangka pendek, tindakan tersebut mengandung beberapa konsekuensi negatif dalam jangka panjang. Pemberhentian pegawai penjualan yang menerima gaji tertinggi (yang kemungkinan adalah pegawai terbaik) dapat mengganggu kemampuan divisi untuk menghasilkan enjualan di masa mendatang. Penjualan di masa mendatang mungkin juga akan terganggu karena pemotongan biaya iklan dan penggunaan bahan baku yang lebih murah. Penundaan promosi pegawai mungkin merusak moral pegawai, bahkan dapat mengurangi produkitivitas dan penjualan di masa mendatang. Akhirnya, penggunaan biaya pemeliharaan mungkin akan meningkatkan frekuensi peralatan yang rusak dan mengurangi usia produktif peralatan.
4. MENGUKUR KINERJA PUSAT INVESTASI DENGAN MENGGUNAKAN LABA RESIDU DAN NILAI TAMBAH EKONOMI
Untuk mengatasi kecenderungan ROI untuk menghalangi investasi yang menguntungkan bagi perusahaan, tetapi menurunkan ROI divisi, beberapa perusahaan telah menerapkan alternatif ukuran kinerja seperti laba residu. Nilai tambah ekonomi (economic value added – EVA) adalah cara alternatif untuk menghitung laba residu yang saat ini digunakan di sejumlah perusahaan.
4.1 Laba residu
Laba residu (residual income) adalah perbedaan anatara laba operasi dan pengembalian dolar minimum yang disyaratkan atas aktiva operasi perusahaan.
Laba residu = laba operasi – (Tingkat pengembalian minimum x Aktiva Operasi rata-rata)
Kita kembali pada contoh Celimar Company. Tampilan 10-13 menunjukkan bagaimana laba residu dihitung dengan asumsi Celimar meminta tingkat pengembalian minimum 12 persen.
Tingkat pengembalian minimum ditentukan perusahaan dan sama dengan hurdle rate yang disebutkan pada bagian ROI. Jika laba residu lebih besar dari nol, divisi memperoleh lebih banyak tingkat pengembalian minimum yang lebih sedikit tingkat pengembalian minimum yang diminta (atau hurdle rate). Jika laba residu kurang dari nol, divisi memperoleh lebih sedikit tingkat pengembalian minimum yang diminta. Akhirnya, laba residu yang sama dengan nol menunjukkan divisi memperoleh tepat sama dengan tingkat pengembalian minimum yang diminta.
4.2 Keunggulan laba residu
Ingat kembali bahwa manajer Cleaning Product Division menolak proyek I karena akan menurunkan ROI divisi. Namun, keputusan tersebut membebani laba perusahaan sebesar $300.000. Penggunaan laba residu sebagai ukuran kinerja akan mencegah kerugian ini. Laba residu untuk setiap proyek dihitung sebagai berikut :
Proyek I
Laba residu = Laba operasi – (Tingkat pengembalian minimum x Aktiva operasi rata-rata)
= $1.300.000 – (0,10 x $10.000.000)
= $1.300.000 – $1.000.000
= $300.000
Proyek II
Laba residu = $640.000 – (0,10 x $4.000.000)
= $640.000 – $400.000
= $240.000
Perhatikan bahwa kedua proyek memiliki laba residu positif. Untuk tujuan perbandingan, laba resdiu divisi untuk setiap alternatif tersebut di identifikasikan sebagai berikut :
Alternatif
Hanya Hanya Memilih Tidak
Memilih Memilih Kedua Memilih
Proyek I Proyek II Proyek KeduaProyek
Aktiva operasi $60.000.000 $54.000.000 $64.000.000 $50.000.000
Laba operasi $ 8.800.000 $ 8.140.000 $ 9.440.000 $ 7.500.000
Pengembalian minimum* 6.000.000 5.400.000 6.400.000 5.000.000
Laba residu $ 2.800.000 $ 2.740.000 $ 3.040.000 $ 2.500.000
*0,10 x aktiva operasi
Seperti yang di tunjukkan di atas, memilih kedua proyek menghasilkan peningkatan laba residu yang terbesar. Penggunaan laba residu mendorong para manajer untuk menerima proyek apa pun yang menghasilkan tingkat di atas minimum.
4.3 Kelemahan laba residu
Laba residu, seperti halnya ROI, bisa mendorong orientasi jangka pendek. Jika Ruth Lunsford dievaluasi atas dasar laba residu, dia mungkin akan mengambil tindakan yang sama.
Masalah lainnya dengan laba residu tidak seperti ROI, laba residu adalah ukuran absolut dari profitabilitas. Jadi, perbandingan langsung dari kinerja pada dua pusat investasi yang berbeda menjadi sulit karena tingkat investasinya bisa berbeda. Sebagai contoh, pertimbangkan perhitungan laba residu untuk Divisi A dan Divisi B, di mana tingkat pengembalian minimum yang diminta adalah 8 persen.
Ada kecenderungan untuk menyatakan kinerja Divisi A lebih baik daripada Divisi B karena laba residunya tiga kali lebih besar. Akan tetapi, perhatikan bahwa Divisi A jauh lebih besar daripada Divisi B dan memiliki aktiva enam kali lebih banyak. Salah satu cara yang memungkinkan untuk mengoreksi kelemahan ini adalah menghitung pengembalian atas investasi dan laba residu, serta menggunakan kedua ukuran tersebut untuk evaluasi kinerja. Kemudian, ROI bisa digunakan untuk perbandingan antardivisi.
4.4 Nilai tambah ekonomi
Cara khusus menghitung laba residu adalah nilai tambah ekonomi. Nilia tambah ekonomi (economics value added – EVA) adalah laba bersih (laba operasi dikurangi pajak) dikurangi total niaya modal tahunan. Pada dasarnya, EVA adalah laba residu dengan biaya modal sama dengan biaya modal aktual dari perusahaan (sebagai ganti dari suatu tingkat pengembalian minimum yang diinginkan perusahaan karena alasan lainnya). Jika EVA positif, maka perusahaan sedang menciptakan kekayaan. Jika negatif, maka perusahaan sedang menyia – nyiakan modal. Pertimbangkan perkatan yang sudah ada sejak lama, yaitu “perlu ada uang untuk mendapatkan uang”. EVA membantu perusahaan untuk menentukan apakah uang yang didapatkannya lebih besar daripada uang yang digunakan untuk mendapatkan uang tersebut. Dalam jangka panjang, hanya perusahaan-perusahaan yang menhasilkan modal atau kekayaan yang dapat bertahan.
Sebagai suatu bentuk dari laba residu, EVA adalah suatu bentuk satuan dolar, bahkan suatu tingkat persentase pengembalian. Akan tetapi, EVA juga menghasilkan tingkat pengembalian seperti ROI karena menghubungkan penghasilan bersih (pengembalian) dengan modal yangdipakai. Inti EVA adalah penekanan pada laba bersih operasi dan biaya aktual dari modal. Di lain pihak, secara khusus, pendapatan resdual menggunakan uatu tingkat minimum pngembalian yang diharapkan. Para investor menyukai EVA karena menghubungkan laba dengan jumlah sumber – sumber daya yang diperlukan untuk mencapainya. Sejumlah perusahaan telah di evaluasi dengan dasar EVA. Sebagai contoh, pada tahun 2003, EVA dari General Electric adalah $5.983 juta, Verizon Communications $5.612 juta, dan Disney Company $2.072 juta. Beberapa perusahaan kecil juga memiliki EVA yang berbeda – beda. Perusahaan-perusahaan yang lebih kecil juga berbeda-beda dalam hal nilai tambah ekonomi mereka. Pixar positif sebesar $31 juta, sedangkan JetBlue Airways Corp memiliki EVA negatif $15 juta.
4.5 Menghitung EVA
EVA adalah laba bersih atau laba operasi setelah pajak dikurangi biaya modal yang dipakai. Biaya modal yang dipakai adalah persentase aktual dari biaya modal diklai dengan total modal yang dipakai. Persamaan EVA dinyatakan sebagai berikut :
EVA = Laba operasi setelah pajak – (Persentase biaya modal aktual x Total modal yang dipakai)
Tampilan 10-14 Cara menghitung EVA
Celimar Company memperoleh laba bersih tahun lalu seperti yang ditunjukkan pada laporan laba rugi beriku ini :
Penjualan $480.000
Harga pokok penjualan 222.000
Margin kotor $258.000
Beban penjualan dan administrasi 210.000
Laba operasi $ 48.000
Dikurangi : pajak penghasilan (@30%) 14.400
Laba bersih $ 33.600
Jumlah modal yang dipakai sama dengan $300.000. Biaya modal aktual Celimar Company adalah 10 persen.
EVA = laba operasi setelah pajak – (persentase biaya modal aktualxTotal modal yg dipakai)
= $33.600 – (0,10 $300.000)
= $33.600 – $30.000
= $3.600
4.6 Aspek perilaku EVA
Sejumlah perusahaan telah menemukan bahwa EVA membantu mendorong jenis perilaku yang sesuai dari berbagai divisi dengan menunjukkan penekanan semata-mata pada pendapatan operasi tidaklah mencukupi. Alasan yang mendasarinya adalah EVA mengandalkan biaya modal yang sebenarnya. Di banyak perusahaan, tanggung jawab keputusan investasi terletak pada manajemen perusahaan. Akibatnya, biaya modal diperhitungkan sebagai pengeluaran perusahaan. Jika suatu divisi menumpuk persediaan dan melakukan investasi, biaya pendanaan investasi akan dilaporkan dalam neraca laba rugi perusahaan secara keseluruhan dan tidak diperlihatkan sebagai pengurangan pendapatan operasi divisi. Akibatnya, investasi terlihat seolah-olah bebas biaya bagi divisi dan mereka tentu menginginkan lebih.
KESIMPULAN
Dari pembahasan makalah diatas dapat disimpulkan :
1. Pusat laba dinilai berdasarkan laporan laba rugi. Akan tetapi, laporan laba rugi perusahaan secara keseluruhan tidak terlalu berguna untuk tujuan ini. Ada dua metoda perhitungan laba yang telah dikembangkan yaitu berdasarkan perhitungan biaya variabel dan perhitungan biaya penuh atau absorpsi.
2. Hubungan antara laba menurut perhitungan biaya variabel dan laba menurut perhitungan biaya absorpsi berubah seketika hubungan antara produksi dan penjualan berubah.
3. Pusat – pusat investasi umumnya dievaluasi berdasarkan pengembalian atas investasi.
4. Pengembalian atas investasi (return on investment – ROI), yaitu laba yang diperoleh untuk setiap dolar investasi.
5. Laba residu (residual income) adalah perbedaan anatara laba operasi dan pengembalian dolar minimum yang disyaratkan atas aktiva operasi perusahaan.
6. EVA adalah laba bersih atau laba operasi setelah pajak dikurangi biaya modal yang dipakai.
DAFTAR PUSTAKA
Hansen. Mowen. 2009. “Akuntansi Manajerial”. Edisi - 8. Buku - 1. Salemba Empat. Jakarta
EVALUASI PUSAT INVESTASI
DOSEN PENGAMPU :
Dina Dwi Oktavia Rini, S.E., M.S.A.
NAMA KELOMPOK :
Dani Purniawan ( 132010200198 )
Novita Wulandarum ( 132010200226 )
Rochmah Ermawati ( 132010200225 )
Hanggy Prayudha ( 122010200075 )
Sandra Yulia Wijayanti ( 132010200204 )
Muhammad Wawan Mei Siswanto ( 132010200167 )
FAKULTAS EKONOMI / PRODI MANAJEMEN / KELAS A - 2 (PAGI) / SEMESTER – IV
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO
KATA PENGANTAR
Kami panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat hidayah dan inayahnya sehingga makalah ini dapat terbentuk sedemikian rupa. Tak lupa kami hanturkan sholawat serta salam kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membimbing kita menuju jalan yang benar.
Makalah ini kami buat dengan sengaja agar acara yang kami rencanakan dapat berjalan dengan lancar tanpa suatu kendala apapun. Harapan kami, semoga makalah ini dapat diterima dan bermanfaat untuk semua masyarakat.
Demikianlah makalah ini kami buat, kurang lebihnya kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kami ucapkan terimakasih atas perhatiannya.
Sidoarjo, 15 April 2015
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
1. PENGUKURAN KINERJA PUSAT INVESTASI DENGAN MENGGUNAKAN LAPORAN LABA RUGI VARIABLE DAN ABSORPSI 1
2. PENGUKURAN KINERJA PUSAT INVESTASI DENGAN MENGGUNAKAN ROI 12
3. KEUNGGULAN ROI 16
4. MENGUKUR KINERJA PUSAT INVESTASI DENGAN MENGGUNAKAN LABA RESIDU DAN NILAI TAMBAH EKONOMI 22
KESIMPULAN 27
DAFTAR PUSTAKA 28
1. PENGUKURAN KINERJA PUSAT INVESTASI DENGAN MENGGUNAKAN LAPORAN LABA RUGI VARIABLE DAN ABSORPSI
Pusat laba dinilai berdasarkan laporan laba rugi. Akan tetapi, laporan laba rugi perusahaan secara keseluruhan tidak terlalu berguna untuk tujuan ini. Ada dua metoda perhitungan laba yang telah dikembangkan yaitu berdasarkan perhitungan biaya variabel dan perhitungan biaya penuh atau absorpsi.
Perhitungan biaya variabel menekankan perbedaan antara biaya manufaktur variabel tetap. Perhitungan biaya variabel yang juga disebut biaya langsung hanya membebankan biaya manufaktur variabel dan ke produksi yang meliputi bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead variabel. Overhead tetap diperlakukan sebagai beban perioda itu dan dibebankan secara total terhadap pendapatan perioda tersebut.
Perhitungan biaya absorpsi membebankan semua biaya manufaktur pada produk, overhead tetap dipandang sebagai biaya produk bukan sebagai biaya perioda. Menurut metoda ini overhead tetap dibebankan pada produk melalui penggunaan tarif overhead tetap yang diterapkan terlebih dulu dan tidak dibebankan sampai produk terjual.
GAAP ( Generally Accepted Accounting Principles ) mensyaratkan perhitungan biaya absorpsi untuk pelaporan eksternal. Sedangkan FASB ( Financial Accounting Standards Boards ) dan IRS ( Internal Revenue Service ) juga lembaga pengatur lainnya tidak menerima perhitungan biaya variabel sebagai metoda perhitungan biaya produk untuk pelaporan eksternal. Informasi seperti ini tidak dapat diperoleh dari perhitungan biaya absopsi. Untuk tujuan internal perhitungan biaya variabel merupakan alat paling efektif untuk manajerial.
1.1 Penilaian Persediaan
Persediaan dinilai atas biaya produk atau produksi. Perhatikan data Fairchild Company.
Data tersebut menunjukkan ada $2.000 unit didalam persediaan akhir ($10.000 - $8.000). tampilan 10-5 menunjukkan cara menghitung biaya persediaan akhir dengan menggunakan biaya absorpsi dan variabel. Pada perhitungan biaya variabel, persediaan akhir hanya mencakup biaya bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead variabel. Tidak dimasukkannya overhead tetap dalam hasil biaya persediaan perhitungan biaya variabel membuat penilaian persediaan yang lebih rendah daripada model absopsi.
1.2 Laporan Laba Rugi Dengan Menggunakan Biaya Variabel Dan Absorpsi
Banyak biaya produksi per unit merupakan dasar bagi perhitungan harga pokok penjualan, metoda perhitungan biaya variabel dan absopsi dapat mengakibatkan angka laba bersih yang berbeda. Tampilan 10-6 menunjukkan cara menghitung harga pokok penjualan dan laporan laba rugi dengan menggunakan biaya variabel dan absorpsi. Pada tampilan 10-6 menunjukkan laba menurut biaya absorpsi adalah $50.000 lebih tinggi daripada perhitungan biaya variabel. Bahkan hanya $200.000 ($25 x $8.000) dari overhead tetap yang dimasukkan dalam harga pokok penjualan pada perhitungan biaya absorpsi; sisa nya yaitu $50.000 ($25 x $2.000) ditambahakan ke persediaan. Tatapi pada perhitungan biaya variabel, semua biaya overhead tetap sebesar $250.000 untuk perioda tersebut ditambahkan ke beban pada laporan laba rugi. Perhatikan penjualan dan administrasi tidak pernah dimasukkan dalam biaya produk. Oleh sebab itu penjualan dan administrasi selalu dikeluarkan dari laporan laba rugi dan tidak muncul di neraca.
1.3 Hubungan Antara Laba Menurut Perhitungan Biaya
Hubungan antara laba menurut perhitungan biaya variabel dan laba menurut perhitungan biaya absorpsi berubah seketika hubungan antara produksi dan penjualan berubah. Guna memahami ini situasinya berubah dari perusahanaan Fairchild, disini menjualan lebih banyak dari yang diproduksi dari persediaan awal dan unit yang diproduksi terjual. Menurut perhitungan biaya absorpsi, unit yang keluar dari persediaan mengandung overhead tetap dari perioda sebelumnya. Oleh karena itu laba perhitungan biaya variabel lebih tinggi dari laba menurut perhitungan biaya absorpsi sebesar jumlah overhead tetap yang mengalir keluar dari persediaan.
Karena itu, laba menurut perhitungan biaya variabel lebih tinggi dari pada perhitungan biaya absorpsi sebesar jumlah overhead tetap yang mengalir ke persediaan. Sebab unit yang diproduksi terjual seluruhnya, perhitungan biaya absorpsi seperti juga perhitungan biaya variabel akan mengakui total overhead tetap perioda tersebut sebagai beban. Hubungan antara produksi, penjualan, dan kedua laba yang dilaporkan disajikan pada tampilan 10-7 perhatikan bahwa jika produksi lebih kecil dari penjualan maka persediaan meningkat. Untuk mengilustrasikan hubungan tersebut coba perhatikan contoh berikut yang didasarkan pada data operasional Belnip Inc pada tahun 2006, 2007, dan 2008.
Biaya variabel per unit :
Bahan baku langsung $4,00
Tenaga kerja langsung 1,50
Overhead variabel (estimasi & aktual) 0,50
Penjualan & administrasi variabel 0,25
Laporan laba rugi yang disusun menurut perhitungan biaya absorpsi dan variabel diperlihatkan pada tampilan 10-8. Pada tahun 2006 loba bersih untuk setiap metoda adalah sama. Kesimpulannya adalah kedua metoda tersebut membebankan jumlah overhead tetap yang sama. Total overhead tetap perioda sebesar $150.000 telah dibebankan, overhead tetap yang diperkirakan adalah ($150.000 / $150.000) unit produksi, selama tiga tahun. Karena overhead tetap aktual per tahun juga $150.000, tidak ada variasi tetap akan overhead per tahun. Selama tahun 2006 total beban overhead tetap menurut perhitungan biaya absorpsi adala $150.000 ( $1 x $150.000 unit yang terjual ). Kedua metoda mengakui beban yang sama akan overhead tetap.
Akan tetapi keadaan 2007 berbeda, dari tampilan 10-8 terlihat bahwa laba menurut perhitungan dari tampilan 10-7 laba menurut perhitungan biaya absorpsi adalah $50.000 lebih besar dari laba menurut perhitungan biaya variabel ($225.000 – $175.000) selisih antara kedua laba ini terjadi karena adanya $50.000 beban overhead tetap.
Pada perhitungan biaya absorpsi, setiap unit yang diproduksi dibebankan $1 overhead tetap. Karena dari $150.000 unit yang diproduksi hanya $100.000 unit yang terjual, sisa $50.000 unit dimasukkan dalam persediaan. Sebanyak $50.000 unit yang menjadi persediaan membawa overhead tatap sebesar $1 sehingga totalnya $50.000.
Overhead $50.000 ini tidak akan diakui sampai semuannya terjual. Menurut perhitungan biaya absorpsi $150.000 overhead tetap perioda dikelopokkan dalam dua kategori $100.000 sebagai beban dan $50.000 sebagai persediaan.
Akan tetapi menurut perhitungan biaya variabel, total overhead tatap sebesar $150.000 diakui sebagai beban biaya perioda. Karena biaya variabel $150.000 diakui sebagai beban overhead tetap. Perhitungan biaya absorpsi hanya mengakui $100.000 laba yang dilaporkan menurut biaya absorpsi $50.000.
Pada tahun 2008, hubungan antara kedua laba terbalik. Perbedaannya sekarang adalah $50.000 menguntunkan untuk biaya variabel. Karena biaya absorpsi haya mengakui $150.000 beban overhead tetap untuk unit yang diproduksidan dujual pada perioda ini, juga mengakui $50.000 overhead tetap yang dikandung unit persediaan produksi pada 2007 dan terjual pada tahun 2008. Disini overhead tetap sebagai beban adalah $200.000menurut perhitungan biaya absorpsi dan hanya $150.000 menurut perhitungan biaya variabel. Perubahan dalam overhead tetap dalam persediaan adalah tepat sma dengan selisih antara kedua laba, perubahan ini dapat dihitung melalui perkalian tarif overhead tetap dengan perubahan total unit persediaan awal dan akhir (merupakan selisih antara produksi dan penjualan). Dengan formula seperti dibawah ini .
X
1.4 Perlakuan Overhead Tetap Pada Perhitungan Biaya Absorpsi
Perbedaan antara perhitungan biaya absorpsi dan variabel terletak pada pengakuan beban yang berhubungan dengan overhead tetap. Menurut perhitungan biaya absorpsi, overhead tetap harus dibebankan pada unit produksi. Pertama bagaimana mengkonversikan overhead pabrik akan jam tenaga kerja langsung atau jam mesin terhadap overhead yang ditetapkan untuk unit yang diproduksi, kedua overhead pabrik yang aktual tidak sama dengan overhead pabrik yang dibebankan.
Masalah pertama dapat diatasi dengan relatif mudah, misalnya overhead pabrik yang ditetapkan atas dasar jam tenaga kerja langsung. Misalnya jam tenaga kerja langsung adalah $2 dan overhead tetap adalah $20 maka ($2 x $20) adalah overhead tetap per unit. Untuk solusi yang kedua membutuhkan pemikiran yang lebih dalam.
1.5 Mengevaluasi Manajer Pusat Laba
Evaluasi para manajer seringkali dikaitkan dengan profitabilitas unit yang dibawah naungan mereka. Misalnya jika seorang manajer telah bekerja keras dan berhasil meningkatkan penjualan, sementara biaya tidak berubah, maka laba harus meningkat lebih dari sebelumnya yang mnegisyaratkan keberhasilan. Secara umum kinerja laba harus mencerminkan kinerja manajerial, dari ini menajerial harus melakukan :
1. Ketika pendapatan meningkat maka laba harus meningkat.
2. Ketika penjualan menurun maka laba akan menurun.
3. Ketika penjualan tidak berubah maka laba akan tetap tidak berubah.
Perhitungan biaya variabel memang memastikan hubungan diatas tetapi menurut perhitungan biaya absorpsi terkadang tidak demikian.
Biaya manufaktur biaya per unit $10 tahun $10 tahun
Produksi 10.000 2007 5.000 2008
Unit terjual ($2.5 per unit) 5.000 10.000
Overhead tetap $100.000 $100.000
Biaya produk menurut perhitungan biaya variabel adalah $10 per unit pada tahu kedua, dan biaya produk menurut perhitungan biaya absorpsi $20 per unit pada tahun 2007 dan $30 per unit pada tahun 2008 [ $10 + ( $100.000 / $10 ) untuk tahun 2005, $10 + $100.000 / $5.000 untuk tahun 2008 ].
Laporan laba rugi menurut perhitungan biaya variabel dan absorpsi disajiukan di tampilan 10-10. Disitu terlihat penjualan meningkat dari $5.000 ke 1$0.000 unit, total biaya tetap dan biaya manufaktur variabel per unit, dan harga jual per unit adalah sama. Jadi kenaikan dua kali lipat dalam penjualan mencerminkan satu satunya perubahan dari satu perioda ke perioda berikutnya.
Menurut perhitungan biaya variabel, laba meningkat $75.000 dari tahun 2007 ke 2008 ( dari rugi $25.000 ke laba $50.000 ), sedangkan menurut perhitungan biaya absorpsi, laba bersih turun sebesar $25.000 (dari laba $25.000 menjadi $0), meskipun ada kenaikkan penjualan. Dari sini semua biaya tidak berubah akan tetapi perhitungan biaya absorpsi tidak mampu menunjukkan berbaikan kinerja.
1.6 Laporan Laba Rugi Segmen Dengan Menggunakan Perhitungan Biaya Variabel
Perhitungan biaya variabel berguna dalam menyiapkan laporan laba rugi segmen, karena perhitungan ini menyediakan informasi penting terkait beban variabel dan tetap. Akan tetapi dalam laporan laba rugi segmen beban tetap di bagi menjadi dua, beban tetap langsung dan beban tatap umum.
Beban tetap langsung adalah : beban tetap yang secara langsung dapat ditelusuri ke suatu segmen. Beban ini sering disebut beban tetap yang dapat dihindari, karena beban ini akan hilang jika segmen ditutup. Contohnya beban pembuatan voucher belanja Carrefour bagi segmen para mahasiswa untuk produk buku tulis berkarakter khusus, maka dari itu jika penjualan buku tulis bagi para mahasiswa dihilangkan maka beban voucher belanja Carrefour juga akan hilang.
Beban tetap umum disebabkan oleh dua atau lebih segmen yang bersamaan, beban ini akan tetap muncul jika salah satu segmen dihilangkan. Contohnya perusahaan Computer Asus memiliki segmen dibidang Notebook dan Motherboard, nah jika usaha Motherboard ini dihilangkan maka akan tetap ada, karena Asus membuat Notebook yang merupakan komponen utamanya adalah Motherboard yang menyatukan segala komponen yang ada di semua Personal Computer.
Laporan laba rugi segmen denganmenggunkanan perhitungan biaya variabel memiliki satu keistimewaan di samping laporan laba rugi perhitungan biaya variabel yang telah disajikan sebelumnya. Pembagian seluruh beban tetap dalam dua kategori: beban tetap langsung dan beban tetap umum, memberikan informasi tambahan bagi manajer. Pembagian tambahan ini menggarisbawahi biaya yang dapat dikendalikan dengan biaya yang tidak dapat dikendalikan dan meningkatkan kemampuan manajer untuk mengevaluasi setiap kontribusi segmen terhadap kinerja perusahaan secara keseluruhan.
Karena beban tetap langsung dapat ditelusuri ke suatu segmen (lini produk dalam contoh ini), beban ini disebabkan oleh keberadaan dari segmen itu sendiri. Jika segmen atau lini produk dihapus, maka beban tetp ini akan hilang. Hal ini memberikan suatu gambaran yang lebih tepat kepada manajer mengenai profitabilitas segmen.
Di lain pihak, beban tetap umum disebabkan oleh dua atau lebih segmen. Jika salah satu segmen ini dihapus, beban tetap umum ini tetap ada – dan dalam tingkat yang sama dengan yang sebelumnya. Pada contoh Audiomatronics, penyusutan pabrik dan gaji supervisor pabrik adalah beban tetap umum. Penghapusan satu lini produk tidak akan menghapus pabrik dan penyusutannya. Supervisor pabrik juga akan tetap dibutuhkan untuk mengawasi produksi lini produk lainnya.
Biaya tetap yang merupakan biaya tetap langsung pada suatu segmen mungkin dapat menjadi biaya tetap tak langsung atau umum pada segmen lain. Sebagai contoh, anggaplah lini produk pemutar MP3 disegmentasi menjdai dua wilayah penjualan. Pada kasus ini, penyusutan peralatan yang digunakan untuk memproduksi pemutar MP3 merupakan beban umum bagi kedua wilayah, tetapi dapat ditelusuri secara langsung ke segmen produk itu sendiri.
2. PENGUKURAN KINERJA PUSAT INVESTASI DENGAN MENGGUNAKAN ROI
Pusat – pusat investasi umumnya dievaluasi berdasarkan pengembalian atas investasi. Ukuran – ukuran lainnya, seperti laba residu dan nilai tambah ekonomi dibahas pada bagian selanjutnya.
2.1 Pengembalian atas investasi
Divisi – divisi yang merupakan pusat – pusat investasi akan memiliki laporan laba rugi dan neraca sendiri. Jadi, dapatkah divisi – divisi tersebut kita peringkat berdasarkan laba bersih? Misalkan, sebuah perusahaan mempunyai dua divisi, yaitu Alpha dan Beta. Laba bersih Alpha adalah $100.000 dan laba bersih Beta adalah $200.000. apakah ini berarti Beta memiliki kinerja lebih baik daripada Alpha? Bagaimana bila Alpha menghabiskan investasi sebesar $550.000 untuk menghasilkan kontribusi $100.000, sementara Beta menghabiskan investasi $2 juta untuk menghasilkan kontribusi $200.000? apakah respons Anda berubah? Jelas bahwa menghubungkan laba operasi dengan aktiva yang digunakan untuk menghasilkannya merupakan suatu ukuran kinerja yang lebih bermakna.
Satu cara mengaitkan laba operasi dengan aktiva yang digunakan adalah dengan menghitung pengembalian atas investasi (return on investment – ROI), yaitu laba yang diperoleh untuk setiap dolar investasi. ROI adalah ukuran kinerja yang paling lazim bagi suatu pusat investasi. ROI dapat didefinisikan sebagai berikut :
ROI = Laba operasi / Aktiva operasi rata – rata
Laba operasi (operating income) mengacu pada laba sebelum bunga dan pajak. Aktiva operasi (operating assets) adalah seluruh aktiva yang digunakan untuk menghasilkan laba operasi, termasuk kas, piutang, persediaan, tana, gedung, dan peralatan. Gambaran aktiva operasi rata-rata dihitung sebagai berikut :
Aktiva operasi rata-rata = (Nilai buku bersih awal + Nilai buku bersih akhi) / 2
Banyak pendapat mengenai bagaimana seharusnya aktiva jngka panjang (pabrik dan peralatan) dinilai (sebagai contoh, nilai buku kotor versus nilai buku bersih atau biaya historis versus biaya berjalan). Banyak perusahaan yang menggunakan biaya historis dan nilai buku bersih. Tidak ada satu cara yang selalu lebih tepat dari cara lainnya dalam perhitungan ROI. Hal yang penting adalah memastikan satu metode diterapkan secara konsisten sepanjang waktu. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk membandingkan ROI antarberbagai divisi sepanjang waktu.
Kembali ke contoh kita sebelumnya, ROI Alpha adalah 0,20 ($100.000/$500.000), sementara ROI Beta hanyalah 0,10 ($200.000/$2.000.000). Rumus ROI cepat dan mudah digunakan. Namun, memerinci ROI dalam margin dan rasio-raio perputaran memberikan informasi tambahan.
2.2 Margin dan Perputaran
Cara kedua untuk menghitung ROI adalah memisahkan rumusnya (Laba operasi/Aktiva operasi rata-rata) dalam margin dan perputaran.
ROI = Margin x perputaran
= Laba operasi x Penjualan
Penjualan aktiva operasi rata-rata
Perhatikan bahwa “penjualan” dalam rumus di atas bisa dihapuskan untuk menghasilkan rumus ROI yang awal, yaitu Laba operasi/Aktiva operasi rata-rata.
Margin adalah rasio dari laba operasi terhadap penjualan. Hal ini menunjukkan jumlah laba operasi yang dihasilkan dari setiap dolar penjualan. Hal ini menyatakan bagian dari penjualan yang tersedia untuk bunga, pajak, dan laba. Perputaran (turnover) adalah suatu ukuran lain yang dihitung dengan membagi pendapatan penjualan yang dihasilkan dari setiap dolar yang diinvestasikan dalam aktiva operasi. Hal ini menunjukkan produktivitas aktiva yang digunakan untuk menghasilkan penjualan.
Anggaplah, sebagai contoh, Celimar Company memperoleh laba operasi tahun lalu seperti yang ditunjukkan pada laporan laba rugi berikut :
Penjualan $480.000
Harga pokok penjualan 222.000
Margin kotor $258.000
Beban penjualan dan administrasi 210.000
Laba operasi $ 48.000
Pada awal tahun, nilai buku bersih dari aktiva operasi adalah $277.000. pada akhir tahun, nilai buku bersih dari aktiva operasi adalah $323.000. Maka :
Aktiva operasi rata-rata = (Aktiva awal + Aktiva akhir)/2
= ($277.000 + $323.000)/2
= $300.000
Margin = Laba operasi/penjualan = $48.000/$480.000 = 0,10 atau 10 persen
Perputaran = Penjualan.Aktiva operasi rata-rata = $480.000/$300.000 = 1,6
ROI = Margin x Perputaran = 0,10 x 1,6 = 0,16 atau 16 persen
Atau
ROI = Laba operasi/Aktiva operasi rata-rata = $48.000/$300.000
Meskipun kedua pendekatan ROI yang sama, perhitungan margin dan perputaran mampu memberikan informasi berharga kepada seorang manajer. Untuk mengilustrasikan informasi tambahan itu, pertimbangkan data yang disajikan pada Tampilan 10-12. Divisi Electronics meningkatkan ROI-nya dari 18 persen pada tahun 1 menjadi 20 persen pada tahun 2. Namun, ROI Divisi Medical Supplies turun dari 18 persen menjadi 15 persen. Gambaran yang lebih jelas mengenai penyebab perubahan ini dapat diketahui melalui perhitungan rasio margin dan perputaran pada setiap divisi. Rasio-rasio tersebut juga disajikan pada Tampilan 10-12.
Perhatikan bahwa margin untuk kedua divisi turun dari tahun 1 ke tahun 2. Kedua divisi sebenarnya mengalami penurunan persentase yang sama (16,67 persen). Penurunan margin dapat dijelaskan oleh pengeluaran yang meningkat, tekanan persaingan (yang memaksa penurunan harga jual), atau keduanya
Informasi untuk Divisi Electronics Dan Divisi Medical Supplies
Divisi Electronics Divisi Medical Supplies
Tahun 1 :
Penjualan $30.000.000 $117.000.000
Laba operasi 1.800.000 3.510.000
Aktiva operasi rata-rata 10.000.000 19.500.000
ROIa 18% 18%
Tahun 2 :
Penjualan $40.000.000 $117.000.000
Laba operasi 2.000.000 2.925.000
Aktiva operasi rata-rata 10.000.000 19.500.000
ROIa 20% 15%
Perbandingan Margin dan Perputaran
Divisi Electronics Divisi Medical Supplies
Tahun 1 Tahun 2 Tahun 1 Tahun 2
Marginb 6,0% 5,0% 3,0% 2,5%
perputaranc x 3,0 x 4,0 x 6,0 x 6,0
ROI 18,0% 20,0% 18,0% 15,0%
aLaba operasi dibagi aktiva operasi rata-rata.
bLaba operasi dibagi penjualan.
cPenjualan dibagi aktiva operasi rata-rata.
Tampilan 10-12 Perbandingan Kinerja Divisi dengan Menggunakan ROI
Meskipun marginnya turun, Divisi Electronics mampu meningkatkan tingkat pengembaliannya. Hal ini disebabkan oleh peningkatan perputaran yang lebih besar daripada penurunan margin. Salah satu sumber dari peningkatan perputaran adalah kebijakan yang sengaja mengurangi persediaan. (perhatikan bahwa aktiva rata-rata yang digunakan tetap sama pada Divisi Electronics meskipun penjualan meningkat $10 juta).
Pengalaman Divisi Medical Supplies kurang menggembirakan. Karena tingkat perputarannya tidak berubah, ROI-nya turun. Divisi ini berbeda dengan Divisi Electronics, tidak mampu mengatasi penurunan marginnya.
3. KEUNGGULAN ROI
Sedikitnya, ada tiga hasil positif dari penggunaan ROI.
1. ROI mendorong manajer untuk fokus pada hubungan antara penjualan, beban, dan investasi sebagaimana yang diharapkan dari seorang manajer pusat investasi.
2. ROI mendorong manajer untuk fokus pada efisiensi biaya.
3. ROI mendorong manajer untuk fokus pada efisiensi aktiva operasi.
3.1 Fokus pada Hubungan ROI
Della Barnes, manajer Plastics Division, sedang mempertimbangkan saran dari direktur pemaarannya untuk meningkatkan anggaran iklan sebesar $100.000. Direktur pemasaran yakin bahwa kenaikan ini akan mendorong hasil penjualan sebesar $200.000. Della sadar bahwa kenaikan penjualan juga akan menaikkan beban. Ia menemukan bahwa kenaikan biaya variabel akan sebesar $80.000. Divisi ini juga perlu membeli mesin tambahan untuk mengatasi peningkatan produksi. Peralatan tersebut memerlukan biaya $50.000 dan menambahkan beban penyusutan sebesar $10.000. Akibatnya, saran tersebut akan menambahkan $10.000 ($200.000 - $80.000 - $10.000 - $100.000) kepada laba operasi. Saat ini, penjualan divisi adalah sebesar $2 juta, beban total adalah $1.850.000, dan laba operasi bersih sebesar $150.000. Aktiva operasi sama dengan $1 juta.
Tanpa Peningkatan Iklan Dengan Peningkatan Iklan
Penjualan $2.000.000 $2.200.000
Dikurangi: Beban 1.850.000 2.040.000
Laba operasi $ 150.000 $ 160.000
Aktiva operasi $1.000.000 $1.050.000
ROI :
$150.000/$1.000.000 = 0,15 atau 15 persen
$160.000/$1.050.000 = 0,1524 atau 15,24 persen
ROI tanpa tambahan iklan adalah 15 persen; ROI dengan tambahan iklan dan investasi $50.000 adalah 15,24 persen. Karena ROI meningkat karena saran ini, Della memutuskan untuk mengizinkan peningkatan iklan. Tanpa saran tersebut, ROI berada pada “tingkat gawang (hurdle rate) saat ini. Istilah ini sering digunakan untuk menunjukkan ROI minimum yang dibutuhkan untuk menerima suatu investasi.
3.2 Fokus pada Efisiensi Biaya
Kyle Chugg, manajer Turner’s Battery Division, kesal ketika mengkaji proyeksi-proyeksi pada semester kedua dari tahun fiskal berjalan. Resesi ekonomi telah mengganggu kinerja divisinya. Penambahan proyeksi laba operasi sebesar $200.000 pada laba operasi aktual semesta semester pertama menghasilkan proyeksi laba tahunan sebesar $425.000. Selanjutnya, Kyle membagi proyeksi laba operasi dengan aktiva operasi rata-rata divisi untuk mendapatkan proyeksi ROI sebesar 12,15 persen. “ini sangat buruk,” gumam Kyle. “ROI kita tahun lalu adalah 16 persen. Saya melihat keburukan beberapa tahun lagi di masa mendatang sebelum bisnis kembali normal. Saya harus melakukan sesuatu untuk memperbaiki kinerja kita.”
Kyle memerintahkan semua manajer operasional untuk mengidentifikasi dan menghapus semua aktivitas yang tidak bernilai tambah. Hasilnya, manajer-manajer dengan jenjang lebih rendah menemukan cara mengurangi biaya sampai $150.000 selama semester kedua. Pengurangan ini meningkatkan laba operasi tahunan dari $425.000 menjadi $575.000 yang meningkatkan ROI dari 12,15 persen menjadi 16,43 persen. Yang menarik, Kyle mendapati bahwa sejumlah pengurangan biaya dapat dipertahankan setelah bisnis kembali normal.
3.3 Fokus pada Efisiensi Aktiva Operasi
Electronic Storage Division menikmati kemakmuran selama tahun-tahun awal berdirinya. Pada awalnya, divisi ini mengembangkan teknologi baru untuk penyimpanan data eksternal; penjualan dan pengembalian atas investasi luar biasa tingginya. Namun, selama beberapa tahun terakhir, pesaing berhasil mengembangkan teknologi yang berdaya saing dan ROI divisi anjlok dari 30 persen menjadi 15 persen. Pada awalnya, pemotongan biaya cukup membantu, tetapi saat semua pemborosan biaya telah dihapuskan, perbaikan lebih lanjut melalui pemotongan biaya tidak dimungkinkan lagi. Selain itu, peningkatan penjualan tampaknya tidak dapat dicapai karena persaingan terlalu tajam. Manajer divisi mengupayakan beberapa cara meningkatkan ROI paling sedikit 3 sampai 5 persen. Hanya dengan meningkatkan ROI, divisi ini dapat mengimbangi divisi lain. Divisi berharap dapat menerima tambahan modal untuk riset dan pengembangan.
Manajer divisi memulai suatu program intensif untuk mengurangi aktiva operasi. Hasil terbesar diperoleh dari pengurangan persediaan. Namun, satu pabrik ditutup karena penurunan jangka panjang pada pangsa pasar. Melalui pengoperasian sistem pembelian dan pengolahan just in time (JIT), divisi mampu mengurangi aktivanya tanpa mengancam pangsa pasarnya yang masih ada. Akhirnya, pengurangan dalam aktiva operasi berarti biaya operasi masih dapat dikurangi lebih jauh. Hasil akhirnya adalah peningkatan 50 persen pada ROI divisi, dari 15 persen menjadi lebih dari 22 persen.
3.4 Kelemahan pengukuran ROI
Penekanan yang berlebihan pada ROI dapat menghasilkan pemikiran yang sempit. Berikut dua aspek negatif ROI yang sering disebutkan.
1. ROI mengakibatkan fokus yang sempit pada profitabilitas divisi dengan mengorbankn profitabilitas keseluruhan perusahaan.
2. ROI mendorong para manajer untuk fokus pada kepentingan jangka pendek dengan mengorbankan kepentingan jangka panjang.
Kelemahan-kelemahan tersebut diilustrasikan oleh dua skenario berikut :
Fokus yang Sempit pada Profitabilitas Divisi Cleaning Product Division berkesempatan melakukan investasi dalam dua proyek pada tahun mendatang. Biaya yang dibutuhkan untuk setiap investasi, tingkat pengembalian, dan ROI adalah sebagai berikut :
Proyek I Proyek II
Investasi $10.000.000 $4.000.000
Laba operasi 1.300.000 640.000
ROI 13% 16%
Saat ini, divisi menghasilkan ROI sebesar 15 persen dengan aktiva operasi $50 juta dan laba operasi atas investasi berjalan sebesar $7,5 juta. Divisi telah mendapat persetujuan menambah investasi sbesar $15 juta pada investasi modal baru. Kantor pusat perusahaan mensyaratkan semua investasi harus menghasilkan laba paling sedikit 10 persen (tingkat laba ini mencerminkan biaya perusahaan untuk mendapatkan modal). Setiap modal yang tidak digunakan divisi akan diinvestasikan oleh kantor pusat dan mnghasilkan laba tepat 10 persen.
Manajer divisi mempunyai empat alternatif, yaitu investasi dalam Proyek I, investasi dalam Proyek II, investasi dalam Proyek I dan Proyek II, atau tidak melakukan investasi pada kedua proyek. ROI dvivisi dihitung untuk setiap alternatif.
Alternatif
Hanya Hanya Memilih Tidak
Memilih Memilih Kedua Memilih
Proyek I Proyek II Proyek KeduaProyek
Laba operasi $ 8.800.000 $ 8.140.000 $ 9.440.000 $ 7.500.000
Aktiva operasi $60.000.000 $54.000.000 $64.000.000 $50.000.000
ROI 14,67% 15,07% 14,75% 15,00%
Manajer divisi memilih investasi hanya dalam Proyek II karena investasi tersebut akan meningkatkan ROI dari 15,00 persen menjadi 15,07 persen.
Meskipun mampu memaksimalkan ROI divisi, Proyek II sebenarnya membebani perolehan laba perusahaan. Jika proyek I yang dipilih, perusahaan akan memperoleh laba $1,3 juta. Dengan tidak memilih Proyek I, modal $10 juta (0,10 x $10.000.000). Akibatnya, perhatian yang hanya ditujukan pada ROI divisi merugikan perusahaan dalam bentuk hilangnya laba sebesar $300.000 ($1.300.000 - $1.000.000).
3.5 Mendorong optimisasi jangka pendek
Ruth Lunsford, manajer Small Tools Division, kecewa dengan kinerja divisinya selama tiga kuartal pertama. Berdasarkan proyeksi laba kuartal keempat, ROI untuk tahun tersebut adalah 13 persen, paling tidak dua persen di bawah harapan. ROI ini mungkin tidak cukup kuat sebagai alasan pendukung bagi promosi yang diinginkannya. Dengan sisa waktu tiga bulan, tindakan drastis haru dilakukan. Kemungkinan meningkatkan penjualan pada kuartal terakhir tidaklah besar. Kebanyakan penjualan dibukukan paling sedikit dua sampai tiga bulan sebelumnya. Penekanan pada kegiatan penjualan ekstra akan bermanfaat untuk kinerja tahun berikutnya. Hal yang diperlukan adalah beberapa cara meningkatkan kinerja tahun ini.
Setelah mempertimbangkan secara hti-hati, Ruth memutuskan untuk menempuh langkah – langkah berikut :
1. Memberhentikan lima pegawai penjualan yang menrima gaji tertinggi.
2. Memotong anggaran iklan kuartal keempat sampai 50 persen.
3. Menunda seluruh promosi pegawai dalam divisi selama tiga bulan.
4. Menggunakan bahan baku yang lebih murah untuk produksi selama kuartal keempat.
Secara keseluruhan, langkah-langkah tersebut akan mengurangi beban, menaikkan laba, dan meningkatkan ROI menjadi sekitar 15,2 persen.
Meskipun tindakan Ruth bisa meningkatkan laba dan ROI dalam jangka pendek, tindakan tersebut mengandung beberapa konsekuensi negatif dalam jangka panjang. Pemberhentian pegawai penjualan yang menerima gaji tertinggi (yang kemungkinan adalah pegawai terbaik) dapat mengganggu kemampuan divisi untuk menghasilkan enjualan di masa mendatang. Penjualan di masa mendatang mungkin juga akan terganggu karena pemotongan biaya iklan dan penggunaan bahan baku yang lebih murah. Penundaan promosi pegawai mungkin merusak moral pegawai, bahkan dapat mengurangi produkitivitas dan penjualan di masa mendatang. Akhirnya, penggunaan biaya pemeliharaan mungkin akan meningkatkan frekuensi peralatan yang rusak dan mengurangi usia produktif peralatan.
4. MENGUKUR KINERJA PUSAT INVESTASI DENGAN MENGGUNAKAN LABA RESIDU DAN NILAI TAMBAH EKONOMI
Untuk mengatasi kecenderungan ROI untuk menghalangi investasi yang menguntungkan bagi perusahaan, tetapi menurunkan ROI divisi, beberapa perusahaan telah menerapkan alternatif ukuran kinerja seperti laba residu. Nilai tambah ekonomi (economic value added – EVA) adalah cara alternatif untuk menghitung laba residu yang saat ini digunakan di sejumlah perusahaan.
4.1 Laba residu
Laba residu (residual income) adalah perbedaan anatara laba operasi dan pengembalian dolar minimum yang disyaratkan atas aktiva operasi perusahaan.
Laba residu = laba operasi – (Tingkat pengembalian minimum x Aktiva Operasi rata-rata)
Kita kembali pada contoh Celimar Company. Tampilan 10-13 menunjukkan bagaimana laba residu dihitung dengan asumsi Celimar meminta tingkat pengembalian minimum 12 persen.
Tingkat pengembalian minimum ditentukan perusahaan dan sama dengan hurdle rate yang disebutkan pada bagian ROI. Jika laba residu lebih besar dari nol, divisi memperoleh lebih banyak tingkat pengembalian minimum yang lebih sedikit tingkat pengembalian minimum yang diminta (atau hurdle rate). Jika laba residu kurang dari nol, divisi memperoleh lebih sedikit tingkat pengembalian minimum yang diminta. Akhirnya, laba residu yang sama dengan nol menunjukkan divisi memperoleh tepat sama dengan tingkat pengembalian minimum yang diminta.
4.2 Keunggulan laba residu
Ingat kembali bahwa manajer Cleaning Product Division menolak proyek I karena akan menurunkan ROI divisi. Namun, keputusan tersebut membebani laba perusahaan sebesar $300.000. Penggunaan laba residu sebagai ukuran kinerja akan mencegah kerugian ini. Laba residu untuk setiap proyek dihitung sebagai berikut :
Proyek I
Laba residu = Laba operasi – (Tingkat pengembalian minimum x Aktiva operasi rata-rata)
= $1.300.000 – (0,10 x $10.000.000)
= $1.300.000 – $1.000.000
= $300.000
Proyek II
Laba residu = $640.000 – (0,10 x $4.000.000)
= $640.000 – $400.000
= $240.000
Perhatikan bahwa kedua proyek memiliki laba residu positif. Untuk tujuan perbandingan, laba resdiu divisi untuk setiap alternatif tersebut di identifikasikan sebagai berikut :
Alternatif
Hanya Hanya Memilih Tidak
Memilih Memilih Kedua Memilih
Proyek I Proyek II Proyek KeduaProyek
Aktiva operasi $60.000.000 $54.000.000 $64.000.000 $50.000.000
Laba operasi $ 8.800.000 $ 8.140.000 $ 9.440.000 $ 7.500.000
Pengembalian minimum* 6.000.000 5.400.000 6.400.000 5.000.000
Laba residu $ 2.800.000 $ 2.740.000 $ 3.040.000 $ 2.500.000
*0,10 x aktiva operasi
Seperti yang di tunjukkan di atas, memilih kedua proyek menghasilkan peningkatan laba residu yang terbesar. Penggunaan laba residu mendorong para manajer untuk menerima proyek apa pun yang menghasilkan tingkat di atas minimum.
4.3 Kelemahan laba residu
Laba residu, seperti halnya ROI, bisa mendorong orientasi jangka pendek. Jika Ruth Lunsford dievaluasi atas dasar laba residu, dia mungkin akan mengambil tindakan yang sama.
Masalah lainnya dengan laba residu tidak seperti ROI, laba residu adalah ukuran absolut dari profitabilitas. Jadi, perbandingan langsung dari kinerja pada dua pusat investasi yang berbeda menjadi sulit karena tingkat investasinya bisa berbeda. Sebagai contoh, pertimbangkan perhitungan laba residu untuk Divisi A dan Divisi B, di mana tingkat pengembalian minimum yang diminta adalah 8 persen.
Ada kecenderungan untuk menyatakan kinerja Divisi A lebih baik daripada Divisi B karena laba residunya tiga kali lebih besar. Akan tetapi, perhatikan bahwa Divisi A jauh lebih besar daripada Divisi B dan memiliki aktiva enam kali lebih banyak. Salah satu cara yang memungkinkan untuk mengoreksi kelemahan ini adalah menghitung pengembalian atas investasi dan laba residu, serta menggunakan kedua ukuran tersebut untuk evaluasi kinerja. Kemudian, ROI bisa digunakan untuk perbandingan antardivisi.
4.4 Nilai tambah ekonomi
Cara khusus menghitung laba residu adalah nilai tambah ekonomi. Nilia tambah ekonomi (economics value added – EVA) adalah laba bersih (laba operasi dikurangi pajak) dikurangi total niaya modal tahunan. Pada dasarnya, EVA adalah laba residu dengan biaya modal sama dengan biaya modal aktual dari perusahaan (sebagai ganti dari suatu tingkat pengembalian minimum yang diinginkan perusahaan karena alasan lainnya). Jika EVA positif, maka perusahaan sedang menciptakan kekayaan. Jika negatif, maka perusahaan sedang menyia – nyiakan modal. Pertimbangkan perkatan yang sudah ada sejak lama, yaitu “perlu ada uang untuk mendapatkan uang”. EVA membantu perusahaan untuk menentukan apakah uang yang didapatkannya lebih besar daripada uang yang digunakan untuk mendapatkan uang tersebut. Dalam jangka panjang, hanya perusahaan-perusahaan yang menhasilkan modal atau kekayaan yang dapat bertahan.
Sebagai suatu bentuk dari laba residu, EVA adalah suatu bentuk satuan dolar, bahkan suatu tingkat persentase pengembalian. Akan tetapi, EVA juga menghasilkan tingkat pengembalian seperti ROI karena menghubungkan penghasilan bersih (pengembalian) dengan modal yangdipakai. Inti EVA adalah penekanan pada laba bersih operasi dan biaya aktual dari modal. Di lain pihak, secara khusus, pendapatan resdual menggunakan uatu tingkat minimum pngembalian yang diharapkan. Para investor menyukai EVA karena menghubungkan laba dengan jumlah sumber – sumber daya yang diperlukan untuk mencapainya. Sejumlah perusahaan telah di evaluasi dengan dasar EVA. Sebagai contoh, pada tahun 2003, EVA dari General Electric adalah $5.983 juta, Verizon Communications $5.612 juta, dan Disney Company $2.072 juta. Beberapa perusahaan kecil juga memiliki EVA yang berbeda – beda. Perusahaan-perusahaan yang lebih kecil juga berbeda-beda dalam hal nilai tambah ekonomi mereka. Pixar positif sebesar $31 juta, sedangkan JetBlue Airways Corp memiliki EVA negatif $15 juta.
4.5 Menghitung EVA
EVA adalah laba bersih atau laba operasi setelah pajak dikurangi biaya modal yang dipakai. Biaya modal yang dipakai adalah persentase aktual dari biaya modal diklai dengan total modal yang dipakai. Persamaan EVA dinyatakan sebagai berikut :
EVA = Laba operasi setelah pajak – (Persentase biaya modal aktual x Total modal yang dipakai)
Tampilan 10-14 Cara menghitung EVA
Celimar Company memperoleh laba bersih tahun lalu seperti yang ditunjukkan pada laporan laba rugi beriku ini :
Penjualan $480.000
Harga pokok penjualan 222.000
Margin kotor $258.000
Beban penjualan dan administrasi 210.000
Laba operasi $ 48.000
Dikurangi : pajak penghasilan (@30%) 14.400
Laba bersih $ 33.600
Jumlah modal yang dipakai sama dengan $300.000. Biaya modal aktual Celimar Company adalah 10 persen.
EVA = laba operasi setelah pajak – (persentase biaya modal aktualxTotal modal yg dipakai)
= $33.600 – (0,10 $300.000)
= $33.600 – $30.000
= $3.600
4.6 Aspek perilaku EVA
Sejumlah perusahaan telah menemukan bahwa EVA membantu mendorong jenis perilaku yang sesuai dari berbagai divisi dengan menunjukkan penekanan semata-mata pada pendapatan operasi tidaklah mencukupi. Alasan yang mendasarinya adalah EVA mengandalkan biaya modal yang sebenarnya. Di banyak perusahaan, tanggung jawab keputusan investasi terletak pada manajemen perusahaan. Akibatnya, biaya modal diperhitungkan sebagai pengeluaran perusahaan. Jika suatu divisi menumpuk persediaan dan melakukan investasi, biaya pendanaan investasi akan dilaporkan dalam neraca laba rugi perusahaan secara keseluruhan dan tidak diperlihatkan sebagai pengurangan pendapatan operasi divisi. Akibatnya, investasi terlihat seolah-olah bebas biaya bagi divisi dan mereka tentu menginginkan lebih.
KESIMPULAN
Dari pembahasan makalah diatas dapat disimpulkan :
1. Pusat laba dinilai berdasarkan laporan laba rugi. Akan tetapi, laporan laba rugi perusahaan secara keseluruhan tidak terlalu berguna untuk tujuan ini. Ada dua metoda perhitungan laba yang telah dikembangkan yaitu berdasarkan perhitungan biaya variabel dan perhitungan biaya penuh atau absorpsi.
2. Hubungan antara laba menurut perhitungan biaya variabel dan laba menurut perhitungan biaya absorpsi berubah seketika hubungan antara produksi dan penjualan berubah.
3. Pusat – pusat investasi umumnya dievaluasi berdasarkan pengembalian atas investasi.
4. Pengembalian atas investasi (return on investment – ROI), yaitu laba yang diperoleh untuk setiap dolar investasi.
5. Laba residu (residual income) adalah perbedaan anatara laba operasi dan pengembalian dolar minimum yang disyaratkan atas aktiva operasi perusahaan.
6. EVA adalah laba bersih atau laba operasi setelah pajak dikurangi biaya modal yang dipakai.
DAFTAR PUSTAKA
Hansen. Mowen. 2009. “Akuntansi Manajerial”. Edisi - 8. Buku - 1. Salemba Empat. Jakarta