Halaman

Selasa, 24 Desember 2013


AKIDAH ISLAM KEMUHAMMADIYAHAN
(KONSEP IMAN DAN IHSAN)




Description: Description: Description: umsida logo







KELAS A-2
FAKULTAS EKONOMI PROGRAM STUDI MANAJEMEN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO
DAFTAR PUSTAKA

(HALAMAN 1-3)
Hafidudin,Didin.2005.Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi.Syaamil.Bandung
Azra, Azyumardi. 2008. Kajian Tematik Al-Qur’an tentang Ketuhanan. Angkasa. Bandung.

(HALAMAN 6-9)
Dr. Muhammad Syahrur 2002. Islam dan Iman. Halaman: 26.
Dr. H. Ali Anwar Yusuf. M.Si., dkk. 2005. “Afeksi” Islam (Menjelajahi Nilai-Rasa Transendental bersama Al-Quran). Halaman: 77-78.
Rukun-rukun Iman oleh Dr, Ahmad Al-Mazyad dan Dr. Adil Asy-Shiddiy. Halaman: 2-3.
Lemah Iman (Tanda-tanda, Penyebab dan Solusi) oleh Muhammad bin Sholeh Al-Munajjid. Halaman:7-26.
H. Endang Saifuddin Anshari, M.A. 1992. Iman, Ilmu dan Amal. Halaman: 136-37.

(HALAMAN 10)





KATA PENGANTAR


        Kami panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat hidayah dan inayahnya sehingga makalah ini dapat terbentuk sedemikian rupa. Tak lupa kami hanturkan sholawat serta salam kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membimbing kita menuju jalan yang benar.
       
        Makalah ini kami buat dengan sengaja agar acara yang kami rencanakan dapat berjalan dengan lancar tanpa suatu kendala apapun. Harapan kami, semoga makalah ini dapat diterima dan bermanfaat untuk semua masyarakat.
       
       Demikianlah makalah ini kami buat, kurang lebihnya kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kami ucapkan terimakasih atas perhatiannya.






Sidoarjo,01 Oktober 2013







Penyusun



NAMA KELOMPOK


DANI PURNIAWAN                132010200198            089678226429
ROHMAH ERMAWATI           132010200225            089651557161
DWI FAHRUN NISA                132010200204            085792037355












DAFTAR ISI

NAMA KELOMPOK
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
KONSEP IMAN                                                                               1
            Pengertian Iman                                                                       1
            Hubungan Konsep Iman munurut Islam                                    1
            Konsep Iman Menurut Al-qur’an                                  1
            Konsep Iman Menurut Hadits                                        2
            Konsp iman menurut Hassan Hanafi                           3                                 
            Sikap Hidup Orang Beriman

KONSEP IHSAN                                                                              7
            Tiga Aspek Pokok Dalam Ihsan                                      9

KONSEP IMAN
Pengertian Iman
Secara bahasa , iman berarti membenarkan (tashdiq), sementara menurut istilah adalah ”mengucapkan dengan lisan, membenarkan dalam hati dan mengamalkan dalam perbuatannya”. Adapun iman menurut pengertian istilah yang sesungguhnya ialah kepercayaan yang meresap kedalam hati, dengan penuh keyakinan, tidak bercampur syak dan ragu, serta iasr pengaruh bagi pandangan hidup, tingkah laku dan perbuatan sehari- hari.
Hubungan Konsep Iman munurut Islam
Kata islam sebagaimana diketahui berasal dari kata aslama yuslimu islaman yang artinya berserah diri, patuh dan tunduk kepada Allah. Orang yang melakukan demikian selanjutnya disebut muslim.
Menurut Al-qur’an, iman bukan semata-mata suatu keyakinan akan benarnya ajaran yang diberikan, melainkan iman itu sebenarnya menerima suatu ajaran sebagai landasan untuk melakukan perbuatan. Al-qur’an dengan tegas memegang taguh pengertian seperti ini, karena menurut Al-qur’an walaupun setan dan malaikat itu sama-sama adanya, namun beriman kepada malaikat acap kali disebut sebagai bagian dari rukun iman, sedang terhadap setan orang diharuskan mengafirinya.Hal ini misalnya terlihat pada AL.QUR’AN
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki ) agama (islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Jadi manusia yang bertaqwa harus  meraih dan menyeimbangkan antara iman dan islam. Karena diantara keduanya terdapat perbedaan diantaranya sekaligus merupakan identitas masing-masing. Iman lebih menekankan kepada segi keyakinan dalam hati, sedangkan islam merupakan sikap untuk berbuat dan beramal.
Konsep Iman Menurut Al-qur’an
Kata Iman di dalam al-Qur’an digunakan untuk arti yang bermacam- macam. Ar- Raghib al- Ashfahani, Ahli Kamus Al- Qur’an mengatakan bahwa kata iman didalam al- Qur’an terkadang digunakan untuk arti iman yang hanya sebatas di bibir saja padahal hati dan perbuatanya tidak beriman, terkadang digunakan untuk arti iman yang hanya terbatas pada perbuatan saja, sedangkan hati dan ucapannya tidak beriman dan ketiga kata iman terkadang digunakan untuk arti iman yang diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dalam perbuatan sehari- hari.
~ Iman dalam arti semata-mata ucapan dengan lidah tanpa dibarengi dengan hati dan perbuatan dapat dilihat dari arti QS. Al-Baqarah, 2 :8-9,yaitu:
 “ Dan diantara manusia itu ada orang yang mengatakan :” Kami beriman kepada Allah dan hari Akhirat, sedang yang sebenarnya mereka bukan orang- orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan menipu orang-orang yang beriman, tetapi yang sebenarnya mereka menipu diri sendiri dan mereka tidak sadar.
~ Iman dalam arti hanya perbuatannya saja yang beriman, tetapi ucapan dan hatinya tidak beriman., dapat dilihat dari QS. An- Nisa, 4: 142:
 “ Sesungguhnya orang-orang munafik (beriman palsu) itu hendak menipu mereka. Apabila mereka berdiri mengerjakan sembahyang, mereka berdiri dengam malas, mereka ria (mengambil muka) kepada manusia dan tiada mengingat Allah melainkan sedikit sekali”.
~ Iman dalam arti yang ketiga adalah tashdiqun bi al-qalb wa amalun bi al-jawatih, artinya keadaan dimana pengakuan dengan lisan itu diiringi dengan pembenaran hati, dan mengerjakan apa yang diimankannya dengan perbuatan anggota badan. Contoh iman model ini dapat dilihat dalam QS. Al- Hadid, 57:19: yang Artinya :
“ Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu adalah orang- orang yang Shiddiqien”.
Konsep Iman Menurut Hadits
Hadits yang pertama,
Hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu dari Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam, bahwa beliau bersabda : ”Iman adalah tujuh puluh lebih cabang atau enam puluh lebih cabang. Cabang iman yang paling utama ialah perkataan tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan cabang iman terendah ialah menyingkirkan gangguan dari jalan. Malu termasuk salah satu cabang iman.” (Hadits ini Shahih, Dikeluarkan atau diriwayatkan oleh Al-Bukhari no 9, Muslim no 35, Ahmad 2/414, Abu Daud no 4676, At-Tirmidzi no 2614, An-Nasa’I 8/110, Ibnu Majah no 57, Ibnu Hibban no 166, 167, 181, 190, 191.)
Pengeluaran dalil dari hadits itu, ” Cabang iman yang paling utama ialah perkataan tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah” Ini menunjukkan bahwa ucapan adalah bagian dari Iman. ”dan cabang iman terendah ialah menyingkirkan gangguan dari jalan.” Ini menunjukkan bahwa perbuatan adalah bagian dari Iman. ”Malu termasuk salah satu cabang iman.” Ini menunjukkan bahwa perbuatan hati, seperti malu, dan lain – lain termasuk kedalam keimanan.
Hadits yang kedua
Hadits dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu’anhu berkata , aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda : ”Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangan nya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lidahnya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya dan itulah iman yang paling lemah.” (Hadits ini Shahih, Dikeluarkan atau diriwayatkan oleh Muslim no 49, Ahmad 3/10, 20, 49, 50, Abu Daud no 1140, 4340, At-Tirmidzi no 2172, An-Nasa’I 8/11, 121 dan Ibnu Majah no 1275, 4013, Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban no 306, 307)
Pengeluaran dalil dari hadits itu, ” Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangan nya.” Ini menujukan bahwa perbuatan itu termasuk kedalam keimanan. ”Jika ia tidak mampu, maka dengan lidahnya” Ini menujukan bahwa perkataan itu termasuk kedalam keimanan. ”Jika tidak mampu, maka dengan hatinya dan itulah iman yang paling lemah.” Ini menujukan bahwa membenci didalam hati, adalah bagian dari keimanan.
KONSEP IMAN MENURUT HASSAN HANAFI
ada empat istilah kunci yang biasanya dipergunakan oleh para teologi muslim dalam membicarakan konsep iman, yaitu:
1.      Ma’rifah bi al-aql adalah: mengetahui dengan akal.
2.      Amal adalah: perbuatan baik atau patuh.
3.      Iqrar adalah: pengakuan secara lisan, dan
4.      Tashdiq adalah: membenarkan dengan hati, termasuk pula di dalamnya ma’rifah bi al-qalb (mengetahui dengan hati).
Kemudian di dalam pembahasan ilmu tauhid/kalam, konsep iman ini terpilih menjadi tiga pendapat:
1.      Iman adalah tashdiq di dalam hati dan kufur ialah mendustakan di dalam hati, akan wujud Allah dan keberadaan nabi atau rasul Allah. Menurut konsep iman semata-mata urusan hati, bukan terlihat dari luar. Jika seseorang sudah tashdiq(membenarkan/meyakini) akan adanya Allah, ia sudah disebut beriman, sekalipun perbuatannya tidak sesuai dengan tuntunan ajaran agama. Konsep Iman seperti ini dianut oleh mazhab Murjiah, sebagaian penganut Jahmiah, dan sebagaian kecilAsy’ariah.
2.      Iman adalah tashdiq di dalam hati dan di ikrarkan dengan lidah. Dengan kata lain, seseorang bisa disebut beriman jika ia mempercayai dalam hatinya akan keberadaan Allah dan mengikrarkan (mengucapkan) kepercayaannya itu dengan lidah. Konsep ini juga tidak menghubungkan iman dengan amal perbuatan manusia. Yang pentingtashdiq dan ikrar. Konsep iman seperti ini dianut oleh sebagian pengikut Maturidiah
3.      Iman adalah tashdiq di dalam hati, ikrar dengan lisan, dan dibuktikan dengan perbuatan, konsep ketiga ini mengaitkan perbuatan manusia dengan iman. Karena itu, keimanan seseorang ditentukan pula oleh amal perbuatannya. Konsep ini dianut oleh Mu’tazilah, Khawarij, dan lain-lain.
Dari uraian singkat diatas terlihat bahwa konsep iman di kalangan teolog Islam berbeda-beda. Ada yang hanya mengandung satu unsur, yaitu tashdiq, sebagaimana terlihat pada konsep pertama di atas. Ada yang mengandung dua unsur, tashdiq dan ikrar, seperti konsep nomor dua. Ada pula yang mengandung tiga unsur, tashdiq,ikrar, dan amaliah, sebagaimana konsep nomor tiga di atas.
Di samping masalah konsep iman, pembahasan di dalam ilmu tauhid/kalam juga menyangkut masalah apakah iman itu bisa bertambah atau berkurang atau tidak. Dalam hal ini ada dua pendapat.
1.      Iman tidak bisa bertambah atau berkurang.
2.      Iman bisa bertambah atau berkurang. Ulama yang berpendapat seperti ini terbagi pula kepada dua golongan:
a.       Pendapat yang mengatakan bahwa yang bertambah atau berkurang itu adalah tashdiq dan amal.
b.      Pendapat yang mengatakan bahwa yang bertambah dalam iman itu hanyatashdiqnya.
Pada umumnya para ulama berpendapat, iman itu dapat bertambah pada tashdiq dan amalnya. Tashdiq yang bertambah tentu diikuti oleh pertambahan frekuensi amal.
Menurut sebagian ulama, bertambah atau berkurangnya tashdiq seseorang tergantung kepada:
1.      Wasilahnya. Kuat atau lemahnya dalil (bukti) yang sampai dan dterima oleh seseorang dapat menguatkan atau melemahkan tashdiq-nya;
2.      Diri pribadi seseorang itu sendiri, dalam arti kemampuannya menyerap dalil-dalil keimanan. Makin kuat daya serapnya, makin kuat pula tashdiq-nya. Sebaliknya, jika daya serapnya lemah atau tidak baik, tashdiq-nya pun bisa lemah pula;
3.      Pengamalan terhadap ajaran agama. Seseorang yang melaksanakan kewajiban-kewajiban agama dengan baik dan benar dan frekuensi amaliahnya tinggi, akan merasakan kekuatan iman/tashdiq yang tinggi pula. Makin baik dan tinggi frekuensi amaliahnya, makin bertambah kuat iman/tashdiq-nya.
Ketika kita membicarakan keimanan. Ini tidak akan terlepas dengan dengan akidah. Akidah disebut pula keyakinan, yakni aspek keimanan terhadap Allah dan semua yang difirmankan-Nya untuk diyakini. Sebagai nilai, akidah berisi ajaran dan apa saja yang harus dipercayai, diyakini dan diimani oleh setiap muslim. Jadi, dienul Islam berpijak dan bersumber pada kepercayaan dan keimanan kepada Tuhan. Ia merupakan system kepercayaan yan mengikat manusia kepada Islam. Seseorang bisa disebut muslim bila dengan penuh kesadaran ia bersedia terikat dengan sistem kepercayaan Islam, karena itu, akidah merupakan ikatan dan simpul besar yang pertama dan utama.
Akidah adalah keimanan yang benar dan kuat dalam hati setiap mukmin, yang punya peranan penting karena:
1.      Akidah menyadarkan manusia bahwa ia adalah makhluk, pasti ada pecipta Yang Maha Agung yang telah menjadikannya denan sempurna dan mengaruniainya dengan bermacam nikmat.
2.      Akidah mengenalkan kepada manusia mengapa ia diciptakan. Ia diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, untuk kemakmuran bumi dan kemaslahatan bagi umat manusia.
3.      Akidah juga mengingatkan manusia akan tujuan perjalanannya di dunia, apa yang akan ia hadapi setelah hidup dan mati.
4.      Ia juga mendatangkan perasaan sejuk, tenang, dan tentram, serta membangkitkan rasa bergairah, harapan dan kesabaran dalam iwa manusia.
5.      Akidah juga menjadi pendorong manusia berbuat kebaikan dan menunaikan tugas kewajiban, mengingatkan mereka untuk tidak berbuat aniaya, melampaui batas dan kerusakan dipermukaan bumi.
6.      Akidah islam mengajak untuk salin menolong, mengikat persaudaraan, meningkatkan solidaritas antar manusia.

Terdapat 6 dasar akidah Islam yang kita kenal dengan Rukun Iman, yakni:
1.      Iman kepada Allah
2.      Iman kepada malaikat Allah
3.      Iman kepada kitab-kitab Allah
4.      Iman kepada para rasul Allah
5.      Iman kepada hari kiamat
6.      Iman kepada qada’ dan qadar

Didalam perjalanannya, manusia dengan sifat ketidaksempurnaannya memiliki kelemahan atas keimanannya. Beberapa tanda-tanda lemah iman, yaitu: tergelincir kedalam perbuatan maksiat; merasakan kekerasan hati; tidak konsentrasi dalam melaksanakan ibadah; malas dan melalaikan ketaatan dan ibadah; dada terasa sempit, terjadi perubahan sikap dan selalu merasa terpenjara oleh perasaannya sendiri; hatinya tidak tergugah oleh ayat-ayat Al-Quran; lalai dalam mengingat Allah Swt.; tidak marah ketika hukum-hukum Allah dilanggar; senang tampil; sifat bakhil dan kikir; mengatkan sesuatu yang ia tidak kerjakan; senang dengan musibah yang menimpa umat Islam; melihat sesuatu hanya dari segi, apakah perbuatan itu mengandung dosa atau tidak; meremehkan perbuatan ma’ruf (kebaikan); tidak memperhatikan urusan kaum muslimin; memutus tali ukhuwah (persaudaraan); tidak merasakan adanya tanggung jawab dalam melakukan suatu amalan untuk kepentingan agama Islam; bingung dan takut saat tertimpa musibah; banyak debat dan diskusi yang menyebaban kekerasan hati; ketergantungan dan kekerasan yang berlebihan terhadap dunia; perasaan takjub hanya pada perkaataan atau cara penyampaian rasional seseorang; dan berlebih-lebihan dalam memenuhi kebutuhan diri.

Sikap Hidup Orang Beriman
Memang, tentunya pokok dan sendi-sendi daripada Islam adalah iman, seperti dinyatakan dalam kalimat syahadat. Akan tetapi Islam bukan hanya suatu agama dalam pengertian terbatas, Islam juga melahirkan suatu kebudayaan tersendiri, kebudayaan yang lengkap. Didalam Al-Quran sebagai sumber kebudayaan Islam termuat ayat-ayat yang merupakan petunjuk-petunjuk untuk menimbulkan sikap-sikap tertentuterhadap semua aspek daripada hidup (agama, tingkah laku, sosial, ekonomi, ilmu) dan terhadap lingkungan alam semesta. Jadi yang terakhir ini menyangkut pula terhadap ilmu pengetahuan, terutama biologi dan ilmu pengetahuan alam lainnya. Al-Quran menganjurkan kepada kita untuk mengamati tiap fenomena alam, karena disana dapat terbaca tanda-tanda kebesaran Tuhan bagi orang yang mau berpikir (yang berakal), seperti firman Allah Swt. dalam ayat berikut:
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Q. S. Fushilat: 53)
Islam memang sungguh ajaib dan unik, sebab disamping berpatokan pada iman, Islam juga menghendaki bahwa untuk mempertebal iman itu, manusia justru harus bertanya, berpikir tentang segala sesuatu yang dilihatnya dialam semesta ini. Sesungguhnya Islam menyuruh manusia berpikir, bersikap dan bertindak secara ilmiah.






KONSEP IHSAN
IHSAN satu daripada tonggak yang sama-sama menegakkan kerangka agama Islam seiring dengan iman. Namun, ramai umat Islam sekarang memandang remeh konsep ihsan sehingga tidak mengambil endah kepentingannya dalam kehidupan seharian. Jika diteliti secara mendalam, ihsan sama penting seperti iman dan Islam dalam menentukan hala tuju kehidupan seseorang Muslim, sama ada bahagia di dunia dan akhirat atau sebaliknya.
Ihsan ialah berbuat baik atau berbuat sebaik mungkin, manakala dalam pengertian istilah, ihsan dapat didefinisikan sebagai ajaran atau konsep yang mendukung etika kerja yang baik. Berdasarkan kepada perspektif ini, ihsan dapat difahami sebagai satu produktiviti kerja secara optimum, yaitu bekerja dan melaksanakan sesuatu tugas sesuai dengan hasil sumbangan yang terbaik serta berkualiti tinggi.
Justeru, orang beriman diperintahkan berbuat ihsan seperti Allah berbuat ihsan kepada umat manusia sejagat. Allah berfirman yang bermaksud: “Berbuat baiklah (kepada hamba Allah) seperti Allah berbuat baik kepadamu (dengan pemberian nikmat-Nya yang melimpah).” (Surah al-Qasas, ayat 77)
Sejauh penggunaannya dalam al-Quran dan hadis Rasulullah SAW, kalimah ihsan selalunya dihubungkaitkan dengan Allah dan manusia sejagat.
Konsep ihsan sebenarnya menjurus kepada dua matlamat iaitu ihsan dalam ibadah dan ihsan dalam muamalat.
Ihsan dalam ibadat ialah beribadat kepada Allah dengan penuh khusyuk dan tawaduk di samping bersifat ikhlas kepada-Nya seolah-olah berasa pada saat dan ketika itu berhadapan dengan Allah.
Jika perasaan seumpama timbul dan menyerlah dalam diri manusia, sudah tentu mereka gerun serta takut untuk melanggar larangan Allah kerana berasakan kehadiran Allah yang sentiasa mengawasi setiap gerak geri dan perbuatan mereka setiap detik. Itulah ihsan sebenarnya seperti ditegaskan Rasulullah SAW apabila Baginda didatangi malaikat Jibril yang bertanyakan mengenai Islam, iman dan ihsan. Baginda menjelaskan, “Ihsan itu ialah hendaklah kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya. Sekiranya kamu tidak melihat-Nya sekalipun, maka sesungguhnya Allah tetap melihat kamu.” (Hadis riwayat Muslim)
Setiap Muslim hendaklah menyempurnakan segala amalan ibadat sebaiknya bertepatan landasan digariskan Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Wadah ini penting supaya amalan diterima tanpa sebarang cacat cela dan memperoleh ganjaran berlipat ganda di sisi Allah.
Ibadat solat contohnya, setiap Muslim dituntut memelihara segala syarat dan rukun solat dengan sempurna di samping dituntut khusyuk serta tawaduk supaya solat itu dapat mencegahnya daripada kemungkaran dan maksiat.
Firman Allah yang bermaksud: “Dan dirikanlah solat (dengan tekun), sesungguhnya solat itu mencegah perbuatan yang keji dan mungkar.” (Surah al-Ankabut, ayat 45)
Perlu diingat bahawa konsep ihsan bukan sekadar memelihara hubungan baik dengan Allah semata-mata, malah ihsan juga merangkumi perbuatan dan perlakuan sesama manusia, sama ada bersangkutan perkara duniawi atau ukhrawi. Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah mewajibkan berihsan (menyempurnakan sesuatu dengan baik) dalam semua perkara.” (Hadis riwayat Muslim)
Imam al-Asfahani mentafsirkannya ihsan dalam muamalat dengan dua pengertian, yaitu memberikan limpahan nikmat untuk kesejahteraan dan kepentingan pihak lain, selain mempertingkatkan kualiti kerja.
Pengertian pertama dapat dilihat dengan jelas melalui aktiviti kekeluargaan dan kemasyarakatan dalam komuniti Islam.
Dalam lingkungan kekeluargaan, setiap unit dalam keluarga yaitu: ibu, bapak, anak, suami dan isteri mempunyai tanggungjawab serta rasa saling hormat menghormati.
Seorang anak tidak boleh sama sekali mengecewa dan mengecilkan hati ibu bapaknya. Ibu bapak pula hendaklah mendekati anak dengan penuh kasih sayang dan mendidik supaya mereka menjadi Muslim yang bertakwa kepada Allah.
Wujudnya keadaan itu, cita-cita melahirkan institusi keluarga yang menepati slogan rumahku syurgaku pasti tercapai dengan izin Allah.
Dalam lingkungan kemasyarakatan pula, setiap anggota masyarakat perlu mempunyai rasa tanggungjawab seperti sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: “Seseorang Muslim adalah bersaudara dengan seorang Muslim yang lain. Janganlah kamu menzaliminya, jangan pula menghinanya dan juga jangan merendahkan mereka.” (Hadis riwayat Muslim)
Maksud ihsan adalah menyeluruh, bukan sekadar kepada fakir miskin, malah meliputi segala aspek kehidupan dan diberikan kepada semua lapisan manusia tidak kira kaya atau miskin.
Golongan fakir miskin dan anak yatim seharusnya diberikan bantuan sewajarnya bagi meringankan kesusahan mereka. Begitu juga orang kaya atau berada yang ditimpa kesusahan diberikan bantuan sepatutnya bagi melepaskan mereka daripada belenggu kesempitan hidup
Orang sakit pula hendaklah dibantu dengan mengiringnya ke hospital untuk mendapat rawatan.
Begitulah antara makna konsep ihsan yang wajib diterapkan dalam pentas kehidupan manusia untuk mewujudkan masyarakat harmoni, sejahtera serta diredai Allah.
Pengertian kedua daripada skop ihsan dalam muamalat yakni mempertingkatkan kualiti kerja amat bergantung kepada dua syarat utama yaitu: ilmu pengetahuan menyeluruh dan ketrampilan kemahiran yang mantap. Tanpa kedua-dua syarat itu, tidak akan lahir perbuatan atau kerja yang berkualiti ihsan.



Tiga Aspek Pokok Dalam Ihsan
Ihsan meliputi tiga aspek yang fundamental. Ketiga hal tersebut adalah ibadah, muamalah, dan akhlak. Ketiga hal inilah yang menjadi pokok bahasan dalam ihsan.
1.      Ibadah
Kita berkewajiban ihsan dalam beribadah, yaitu dengan menunaikan semua jenis ibadah, seperti shalat, puasa, haji, dan sebagainya dengan cara yang benar, yaitu menyempurnakan syarat, rukun, sunnah, dan adab-adabnya. Hal ini tidak akan mungkin dapat ditunaikan oleh seorang hamba, kecuali jika saat pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut ia dipenuhi dengan cita rasa yang sangat kuat (menikmatinya), juga dengan kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa memantaunya hingga ia merasa bahwa ia sedang dilihat dan diperhatikan oleh-Nya. Minimal seorang hamba merasakan bahwa Allah senantiasa memantaunya, karena dengan inilah ia dapat menunaikan ibadah-ibadah tersebut dengan baik dan sempurna, sehingga hasil dari ibadah tersebut akan seperti yang diharapkan. Inilah maksud dari perkataan Rasulullah saw yang berbunyi,
“Hendaklah kamu menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
Kini jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya arti dari ibadah itu sendiri sangatlah luas. Maka, selain jenis ibadah yang kita sebutkan tadi, yang tidak kalah pentingnya adalah juga jenis ibadah lainnya seperti jihad, hormat terhadap mukmin, mendidik anak, menyenangkan isteri, meniatkan setiap yangmubah untuk mendapat ridha Allah, dan masih banyak lagi. Oleh karena itulah, Rasulullah saw. menghendaki umatnya senantiasa dalam keadaan seperti itu, yaitu senantiasa sadar jika ia ingin mewujudkan ihsan dalam ibadahnya.
2. Muamalah
Dalam muamalah, ihsan dijelaskan Allah swt. pada surah An-Nisaa’ ayat 36, yang berbunyi sebagai berikut, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.”
Kita sebelumnya telah membahas bahwa ihsan adalah beribadah kepada Allah dengan sikap seakan-akan kita melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka Allah melihat kita. Kini, kita akan membahas ihsan dari muamalah dan siapa saja yang masuk dalam bahasannya. Berikut ini adalah mereka yang berhak mendapatkan ihsan tersebut:
a. ihsan kepada kedua orang tua
b. ihsan kepada karib kerabat
c. ihsan kepada anak yatim dan fakir miskin
d. ihsan kepada tetangga dekat, tetangga jauh, serta teman sejawat
e. ihsan kepada ibnu sabil dan hamba sahaya
f. ihsan dengan perlakuan dan ucapan yang baik kepada manusia
g. ihsan dalam hal muamalah
h. ihsan dengan berlaku baik kepada binatang
3. Akhlak
Ihsan dalam akhlak adalah: buah dari ibadah dan muamalah. Seseorang akan mencapai tingkat ihsan dalam akhlaknya apabila ia telah melakukan ibadah seperti yang menjadi harapan Rasulullah dalam hadits yang telah dikemukakan di awal tulisan ini, yaitu menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah senantiasa melihat kita. Jika hal ini telah dicapai oleh seorang hamba, maka sesungguhnya itulah puncak ihsan dalam ibadah. Pada akhirnya, ia akan berbuah menjadi akhlak atau perilaku, sehingga mereka yang sampai pada tahap ihsan dalam ibadahnya akan terlihat jelas dalam perilaku dan karakternya.
Jika kita ingin melihat nilai ihsan pada diri seseorang —yang diperoleh dari hasil maksimal ibadahnya– maka kita akan menemukannya dalam muamalah kehidupannya. Bagaimana ia bermuamalah dengan sesama manusia, lingkungannya, pekerjaannya, keluarganya, dan bahkan terhadap dirinya sendiri. Berdasarkan ini semua, maka Rasulullah saw. mengatakan dalam sebuah hadits, “Aku diutus hanyalah demi menyempurnakan akhlak yang mulia.”

1 komentar:

  1. MOMOS Casino in Miami - Mapyro
    Casino 김포 출장안마 in Miami. Casino Address, 14665 서울특별 출장안마 Main 창원 출장샵 St. Miami, FL 33314. 천안 출장샵 Directions, 87711, US. 충주 출장마사지 3355 N Main St. Miami, FL 33314.

    BalasHapus