AKIDAH
ISLAM KEMUHAMMADIYAHAN
(KONSEP IMAN DAN IHSAN)

KELAS A-2
FAKULTAS
EKONOMI PROGRAM STUDI MANAJEMEN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO
DAFTAR PUSTAKA
(HALAMAN 1-3)
Hafidudin,Didin.2005.Pendidikan
Agama Islam untuk Perguruan Tinggi.Syaamil.Bandung
Azra, Azyumardi.
2008. Kajian Tematik Al-Qur’an tentang Ketuhanan. Angkasa.
Bandung.
(HALAMAN 6-9)
Dr. Muhammad Syahrur 2002. Islam dan Iman. Halaman: 26.
Dr. H. Ali Anwar Yusuf. M.Si., dkk.
2005. “Afeksi” Islam (Menjelajahi Nilai-Rasa Transendental bersama
Al-Quran). Halaman: 77-78.
Rukun-rukun Iman oleh Dr, Ahmad
Al-Mazyad dan Dr. Adil Asy-Shiddiy. Halaman: 2-3.
Lemah Iman (Tanda-tanda, Penyebab dan
Solusi) oleh Muhammad bin Sholeh Al-Munajjid. Halaman:7-26.
H. Endang Saifuddin Anshari, M.A.
1992. Iman, Ilmu dan Amal. Halaman: 136-37.
(HALAMAN 10)
KATA PENGANTAR
Kami
panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat hidayah dan
inayahnya sehingga makalah ini dapat terbentuk sedemikian rupa. Tak lupa kami
hanturkan sholawat serta salam kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW
yang telah membimbing kita menuju jalan yang benar.
Makalah ini kami buat dengan sengaja agar acara yang kami rencanakan
dapat berjalan dengan lancar tanpa suatu kendala apapun. Harapan kami, semoga
makalah ini dapat diterima dan bermanfaat untuk semua masyarakat.
Demikianlah makalah ini kami buat, kurang lebihnya kami mohon maaf yang
sebesar-besarnya. Kami ucapkan terimakasih atas perhatiannya.
Sidoarjo,01 Oktober 2013
Penyusun
NAMA
KELOMPOK
DANI PURNIAWAN 132010200198 089678226429
ROHMAH ERMAWATI 132010200225 089651557161
DWI FAHRUN NISA 132010200204 085792037355
DAFTAR ISI
NAMA KELOMPOK
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
KONSEP IMAN 1
Pengertian Iman 1
Hubungan Konsep Iman
munurut Islam 1
Konsep Iman Menurut Al-qur’an 1
Konsep Iman Menurut Hadits 2
Konsp iman menurut Hassan Hanafi 3
Sikap Hidup
Orang Beriman
KONSEP IHSAN 7
Tiga Aspek Pokok Dalam Ihsan 9
KONSEP IMAN
Pengertian
Iman
Secara bahasa , iman berarti membenarkan (tashdiq),
sementara menurut istilah adalah ”mengucapkan dengan lisan, membenarkan dalam
hati dan mengamalkan dalam perbuatannya”. Adapun iman menurut pengertian
istilah yang sesungguhnya ialah kepercayaan yang meresap kedalam hati, dengan
penuh keyakinan, tidak bercampur syak dan ragu, serta iasr pengaruh bagi
pandangan hidup, tingkah laku dan perbuatan sehari- hari.
Hubungan
Konsep Iman munurut Islam
Kata islam sebagaimana diketahui berasal dari
kata aslama yuslimu islaman yang
artinya berserah diri, patuh dan tunduk kepada Allah. Orang yang melakukan
demikian selanjutnya disebut muslim.
Menurut Al-qur’an, iman bukan semata-mata suatu
keyakinan akan benarnya ajaran yang diberikan, melainkan iman itu sebenarnya
menerima suatu ajaran sebagai landasan untuk melakukan perbuatan. Al-qur’an
dengan tegas memegang taguh pengertian seperti ini, karena menurut Al-qur’an
walaupun setan dan malaikat itu sama-sama adanya, namun beriman kepada malaikat
acap kali disebut sebagai bagian dari rukun iman, sedang terhadap setan orang
diharuskan mengafirinya.Hal ini misalnya terlihat pada AL.QUR’AN
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki ) agama (islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar
daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thagut dan
beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali
yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui”.
Jadi manusia yang bertaqwa harus meraih dan menyeimbangkan antara iman dan
islam. Karena diantara keduanya terdapat perbedaan diantaranya sekaligus
merupakan identitas masing-masing. Iman lebih menekankan kepada segi keyakinan
dalam hati, sedangkan islam merupakan sikap untuk berbuat dan beramal.
Konsep
Iman Menurut Al-qur’an
Kata Iman di dalam al-Qur’an digunakan untuk arti yang
bermacam- macam. Ar- Raghib al- Ashfahani, Ahli Kamus Al- Qur’an mengatakan
bahwa kata iman didalam al- Qur’an terkadang digunakan untuk arti iman yang
hanya sebatas di bibir saja padahal hati dan perbuatanya tidak beriman,
terkadang digunakan untuk arti iman yang hanya terbatas pada perbuatan saja,
sedangkan hati dan ucapannya tidak beriman dan ketiga kata iman terkadang
digunakan untuk arti iman yang diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan dan
diamalkan dalam perbuatan sehari- hari.
~ Iman dalam arti semata-mata ucapan dengan lidah
tanpa dibarengi dengan hati dan perbuatan dapat dilihat dari arti QS.
Al-Baqarah, 2 :8-9,yaitu:
“
Dan diantara manusia itu ada orang yang mengatakan :” Kami beriman kepada Allah
dan hari Akhirat, sedang yang sebenarnya mereka bukan orang- orang yang
beriman. Mereka hendak menipu Allah dan menipu orang-orang yang beriman, tetapi
yang sebenarnya mereka menipu diri sendiri dan mereka tidak sadar.
~ Iman dalam arti hanya perbuatannya saja yang
beriman, tetapi ucapan dan hatinya tidak beriman., dapat dilihat dari QS. An-
Nisa, 4: 142:
“
Sesungguhnya orang-orang munafik (beriman palsu) itu hendak menipu mereka.
Apabila mereka berdiri mengerjakan sembahyang, mereka berdiri dengam malas,
mereka ria (mengambil muka) kepada manusia dan tiada mengingat Allah melainkan
sedikit sekali”.
~ Iman dalam arti yang ketiga adalah tashdiqun bi al-qalb wa amalun bi
al-jawatih, artinya keadaan dimana pengakuan dengan lisan itu
diiringi dengan pembenaran hati, dan mengerjakan apa yang diimankannya dengan
perbuatan anggota badan. Contoh iman model ini dapat dilihat dalam QS. Al-
Hadid, 57:19: yang Artinya :
“
Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu adalah
orang- orang yang Shiddiqien”.
Konsep
Iman Menurut Hadits
Hadits yang pertama,
Hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu dari Nabi
Shallallahu’alaihi wa Sallam, bahwa beliau bersabda : ”Iman adalah tujuh puluh
lebih cabang atau enam puluh lebih cabang. Cabang iman yang paling utama ialah
perkataan tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan cabang iman
terendah ialah menyingkirkan gangguan dari jalan. Malu termasuk salah satu
cabang iman.” (Hadits ini Shahih, Dikeluarkan atau diriwayatkan oleh Al-Bukhari
no 9, Muslim no 35, Ahmad 2/414, Abu Daud no 4676, At-Tirmidzi no 2614,
An-Nasa’I 8/110, Ibnu Majah no 57, Ibnu Hibban no 166, 167, 181, 190, 191.)
Pengeluaran dalil dari hadits itu, ” Cabang iman yang paling utama ialah
perkataan tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah” Ini
menunjukkan bahwa ucapan adalah bagian dari Iman. ”dan cabang iman terendah
ialah menyingkirkan gangguan dari jalan.” Ini menunjukkan bahwa perbuatan
adalah bagian dari Iman. ”Malu termasuk salah satu cabang iman.” Ini
menunjukkan bahwa perbuatan hati, seperti malu, dan lain – lain termasuk
kedalam keimanan.
Hadits yang kedua
Hadits dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu’anhu
berkata , aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda :
”Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya
dengan tangan nya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lidahnya. Jika tidak mampu,
maka dengan hatinya dan itulah iman yang paling lemah.” (Hadits ini Shahih,
Dikeluarkan atau diriwayatkan oleh Muslim no 49, Ahmad 3/10, 20, 49, 50, Abu
Daud no 1140, 4340, At-Tirmidzi no 2172, An-Nasa’I 8/11, 121 dan Ibnu Majah no
1275, 4013, Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban no 306, 307)
Pengeluaran dalil dari hadits itu, ” Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia
mengubahnya dengan tangan nya.” Ini menujukan bahwa perbuatan itu termasuk
kedalam keimanan. ”Jika ia tidak mampu, maka dengan lidahnya” Ini menujukan
bahwa perkataan itu termasuk kedalam keimanan. ”Jika tidak mampu, maka dengan
hatinya dan itulah iman yang paling lemah.” Ini menujukan bahwa membenci
didalam hati, adalah bagian dari keimanan.
KONSEP
IMAN MENURUT HASSAN HANAFI
ada empat istilah kunci yang biasanya dipergunakan
oleh para teologi muslim dalam membicarakan konsep iman, yaitu:
1. Ma’rifah bi al-aql adalah: mengetahui
dengan akal.
2. Amal adalah: perbuatan baik atau patuh.
3. Iqrar adalah: pengakuan secara lisan, dan
4. Tashdiq adalah: membenarkan dengan
hati, termasuk pula di dalamnya ma’rifah
bi al-qalb (mengetahui dengan hati).
Kemudian di dalam pembahasan ilmu tauhid/kalam, konsep
iman ini terpilih menjadi tiga pendapat:
1. Iman
adalah tashdiq di
dalam hati dan kufur ialah mendustakan di dalam hati, akan wujud Allah dan keberadaan
nabi atau rasul Allah. Menurut konsep iman semata-mata urusan hati, bukan
terlihat dari luar. Jika seseorang sudah tashdiq(membenarkan/meyakini) akan adanya Allah, ia sudah
disebut beriman, sekalipun perbuatannya tidak sesuai dengan tuntunan ajaran
agama. Konsep Iman seperti ini dianut oleh mazhab Murjiah, sebagaian penganut
Jahmiah, dan sebagaian kecilAsy’ariah.
2. Iman
adalah tashdiq di
dalam hati dan di ikrarkan dengan lidah. Dengan kata lain, seseorang bisa
disebut beriman jika ia mempercayai dalam hatinya akan keberadaan Allah dan
mengikrarkan (mengucapkan) kepercayaannya itu dengan lidah. Konsep ini juga
tidak menghubungkan iman dengan amal perbuatan manusia. Yang pentingtashdiq dan ikrar. Konsep iman
seperti ini dianut oleh sebagian pengikut Maturidiah
3. Iman
adalah tashdiq di
dalam hati, ikrar dengan lisan, dan dibuktikan dengan perbuatan, konsep ketiga
ini mengaitkan perbuatan manusia dengan iman. Karena itu, keimanan seseorang
ditentukan pula oleh amal perbuatannya. Konsep ini dianut oleh Mu’tazilah,
Khawarij, dan lain-lain.
Dari uraian singkat diatas terlihat bahwa konsep iman
di kalangan teolog Islam berbeda-beda. Ada yang hanya mengandung satu unsur,
yaitu tashdiq, sebagaimana
terlihat pada konsep pertama di atas. Ada yang mengandung dua unsur, tashdiq dan ikrar, seperti
konsep nomor dua. Ada pula yang mengandung tiga unsur, tashdiq,ikrar, dan amaliah,
sebagaimana konsep nomor tiga di atas.
Di samping masalah konsep iman, pembahasan di dalam
ilmu tauhid/kalam juga menyangkut masalah apakah iman itu bisa bertambah atau
berkurang atau tidak. Dalam hal ini ada dua pendapat.
1. Iman tidak bisa
bertambah atau berkurang.
2. Iman bisa
bertambah atau berkurang. Ulama yang berpendapat seperti ini terbagi pula
kepada dua golongan:
a. Pendapat
yang mengatakan bahwa yang bertambah atau berkurang itu adalah tashdiq dan amal.
b. Pendapat yang
mengatakan bahwa yang bertambah dalam iman itu hanyatashdiqnya.
Pada umumnya para ulama berpendapat, iman itu dapat
bertambah pada tashdiq dan
amalnya. Tashdiq yang
bertambah tentu diikuti oleh pertambahan frekuensi amal.
Menurut sebagian ulama, bertambah atau
berkurangnya tashdiq seseorang
tergantung kepada:
1. Wasilahnya. Kuat
atau lemahnya dalil (bukti) yang sampai dan dterima oleh seseorang dapat
menguatkan atau melemahkan tashdiq-nya;
2. Diri pribadi
seseorang itu sendiri, dalam arti kemampuannya menyerap dalil-dalil keimanan.
Makin kuat daya serapnya, makin kuat pula tashdiq-nya. Sebaliknya, jika daya serapnya lemah atau tidak
baik, tashdiq-nya pun bisa
lemah pula;
3. Pengamalan
terhadap ajaran agama. Seseorang yang melaksanakan kewajiban-kewajiban agama
dengan baik dan benar dan frekuensi amaliahnya tinggi, akan merasakan kekuatan
iman/tashdiq yang tinggi
pula. Makin baik dan tinggi frekuensi amaliahnya, makin bertambah kuat iman/tashdiq-nya.
Ketika
kita membicarakan keimanan. Ini tidak akan terlepas dengan dengan akidah.
Akidah disebut pula keyakinan, yakni aspek keimanan terhadap Allah dan semua
yang difirmankan-Nya untuk diyakini. Sebagai nilai, akidah berisi ajaran dan
apa saja yang harus dipercayai, diyakini dan diimani oleh setiap muslim. Jadi,
dienul Islam berpijak dan bersumber pada kepercayaan dan keimanan kepada Tuhan.
Ia merupakan system kepercayaan yan mengikat manusia kepada Islam. Seseorang
bisa disebut muslim bila dengan penuh kesadaran ia bersedia terikat dengan
sistem kepercayaan Islam, karena itu, akidah merupakan ikatan dan simpul besar
yang pertama dan utama.
Akidah adalah keimanan yang benar dan kuat
dalam hati setiap mukmin, yang punya peranan penting karena:
1. Akidah menyadarkan manusia bahwa ia
adalah makhluk, pasti ada pecipta Yang Maha Agung yang telah menjadikannya
denan sempurna dan mengaruniainya dengan bermacam nikmat.
2. Akidah mengenalkan kepada manusia
mengapa ia diciptakan. Ia diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah
semata, tiada sekutu bagi-Nya, untuk kemakmuran bumi dan kemaslahatan bagi umat
manusia.
3. Akidah juga mengingatkan manusia
akan tujuan perjalanannya di dunia, apa yang akan ia hadapi setelah hidup dan
mati.
4. Ia juga mendatangkan perasaan sejuk,
tenang, dan tentram, serta membangkitkan rasa bergairah, harapan dan kesabaran
dalam iwa manusia.
5. Akidah juga menjadi pendorong
manusia berbuat kebaikan dan menunaikan tugas kewajiban, mengingatkan mereka
untuk tidak berbuat aniaya, melampaui batas dan kerusakan dipermukaan bumi.
6. Akidah islam mengajak untuk salin
menolong, mengikat persaudaraan, meningkatkan solidaritas antar manusia.
Terdapat 6 dasar akidah Islam yang kita kenal dengan Rukun Iman, yakni:
1. Iman kepada Allah
2. Iman kepada malaikat Allah
3. Iman kepada kitab-kitab Allah
4. Iman kepada para rasul Allah
5. Iman kepada hari kiamat
6. Iman kepada qada’ dan qadar
Didalam perjalanannya, manusia
dengan sifat ketidaksempurnaannya memiliki kelemahan atas keimanannya. Beberapa
tanda-tanda lemah iman, yaitu: tergelincir kedalam perbuatan maksiat; merasakan
kekerasan hati; tidak konsentrasi dalam melaksanakan ibadah; malas dan
melalaikan ketaatan dan ibadah; dada terasa sempit, terjadi perubahan sikap dan
selalu merasa terpenjara oleh perasaannya sendiri; hatinya tidak tergugah oleh
ayat-ayat Al-Quran; lalai dalam mengingat Allah Swt.; tidak marah ketika
hukum-hukum Allah dilanggar; senang tampil; sifat bakhil dan kikir; mengatkan
sesuatu yang ia tidak kerjakan; senang dengan musibah yang menimpa umat Islam;
melihat sesuatu hanya dari segi, apakah perbuatan itu mengandung dosa atau
tidak; meremehkan perbuatan ma’ruf (kebaikan); tidak memperhatikan urusan kaum
muslimin; memutus tali ukhuwah (persaudaraan); tidak merasakan adanya tanggung
jawab dalam melakukan suatu amalan untuk kepentingan agama Islam; bingung dan
takut saat tertimpa musibah; banyak debat dan diskusi yang menyebaban kekerasan
hati; ketergantungan dan kekerasan yang berlebihan terhadap dunia; perasaan
takjub hanya pada perkaataan atau cara penyampaian rasional seseorang; dan
berlebih-lebihan dalam memenuhi kebutuhan diri.
Sikap Hidup Orang Beriman
Memang, tentunya pokok dan
sendi-sendi daripada Islam adalah iman, seperti dinyatakan dalam kalimat
syahadat. Akan tetapi Islam bukan hanya suatu agama dalam pengertian terbatas,
Islam juga melahirkan suatu kebudayaan tersendiri, kebudayaan yang lengkap.
Didalam Al-Quran sebagai sumber kebudayaan Islam termuat ayat-ayat yang
merupakan petunjuk-petunjuk untuk menimbulkan sikap-sikap tertentuterhadap
semua aspek daripada hidup (agama, tingkah laku, sosial, ekonomi, ilmu) dan
terhadap lingkungan alam semesta. Jadi yang terakhir ini menyangkut pula
terhadap ilmu pengetahuan, terutama biologi dan ilmu pengetahuan alam
lainnya. Al-Quran menganjurkan kepada kita untuk mengamati tiap fenomena
alam, karena disana dapat terbaca tanda-tanda kebesaran Tuhan bagi orang yang
mau berpikir (yang berakal), seperti firman Allah Swt. dalam ayat berikut:
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di
segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka
bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu
menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Q. S. Fushilat: 53)
Islam memang sungguh ajaib dan unik, sebab disamping berpatokan pada iman,
Islam juga menghendaki bahwa untuk mempertebal iman itu, manusia justru harus
bertanya, berpikir tentang segala sesuatu yang dilihatnya dialam semesta ini.
Sesungguhnya Islam menyuruh manusia berpikir, bersikap dan bertindak secara
ilmiah.
KONSEP
IHSAN
IHSAN satu
daripada tonggak yang sama-sama menegakkan kerangka agama Islam seiring dengan
iman. Namun, ramai umat Islam sekarang memandang remeh konsep ihsan sehingga
tidak mengambil endah kepentingannya dalam kehidupan seharian. Jika diteliti
secara mendalam, ihsan sama penting seperti iman dan Islam dalam menentukan
hala tuju kehidupan seseorang Muslim, sama ada bahagia di dunia dan akhirat
atau sebaliknya.
Ihsan ialah
berbuat baik atau berbuat sebaik mungkin, manakala dalam pengertian istilah,
ihsan dapat didefinisikan sebagai ajaran atau konsep yang mendukung etika kerja
yang baik. Berdasarkan kepada perspektif ini, ihsan dapat difahami sebagai satu
produktiviti kerja secara optimum, yaitu bekerja dan melaksanakan sesuatu tugas
sesuai dengan hasil sumbangan yang terbaik serta berkualiti tinggi.
Justeru, orang beriman diperintahkan
berbuat ihsan seperti Allah berbuat ihsan kepada umat manusia sejagat. Allah
berfirman yang bermaksud: “Berbuat baiklah (kepada hamba Allah) seperti Allah
berbuat baik kepadamu (dengan pemberian nikmat-Nya yang melimpah).” (Surah
al-Qasas, ayat 77)
Sejauh penggunaannya dalam al-Quran
dan hadis Rasulullah SAW, kalimah ihsan selalunya dihubungkaitkan dengan Allah
dan manusia sejagat.
Konsep ihsan
sebenarnya menjurus kepada dua matlamat iaitu ihsan dalam ibadah dan ihsan
dalam muamalat.
Ihsan dalam ibadat ialah beribadat
kepada Allah dengan penuh khusyuk dan tawaduk di samping bersifat ikhlas kepada-Nya
seolah-olah berasa pada saat dan ketika itu berhadapan dengan Allah.
Jika perasaan
seumpama timbul dan menyerlah dalam diri manusia, sudah tentu mereka gerun
serta takut untuk melanggar larangan Allah kerana berasakan kehadiran Allah
yang sentiasa mengawasi setiap gerak geri dan perbuatan mereka setiap detik. Itulah
ihsan sebenarnya seperti ditegaskan Rasulullah SAW apabila Baginda didatangi
malaikat Jibril yang bertanyakan mengenai Islam, iman dan ihsan. Baginda
menjelaskan, “Ihsan itu ialah hendaklah kamu menyembah Allah seolah-olah kamu
melihat-Nya. Sekiranya kamu tidak melihat-Nya sekalipun, maka sesungguhnya
Allah tetap melihat kamu.” (Hadis riwayat Muslim)
Setiap Muslim hendaklah
menyempurnakan segala amalan ibadat sebaiknya bertepatan landasan digariskan
Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Wadah ini penting supaya amalan diterima tanpa
sebarang cacat cela dan memperoleh ganjaran berlipat ganda di sisi Allah.
Ibadat solat contohnya, setiap
Muslim dituntut memelihara segala syarat dan rukun solat dengan sempurna di
samping dituntut khusyuk serta tawaduk supaya solat itu dapat mencegahnya
daripada kemungkaran dan maksiat.
Firman Allah yang bermaksud: “Dan
dirikanlah solat (dengan tekun), sesungguhnya solat itu mencegah perbuatan yang
keji dan mungkar.” (Surah al-Ankabut, ayat 45)
Perlu diingat
bahawa konsep ihsan bukan sekadar memelihara hubungan baik dengan Allah
semata-mata, malah ihsan juga merangkumi perbuatan dan perlakuan sesama
manusia, sama ada bersangkutan perkara duniawi atau ukhrawi. Rasulullah SAW
bersabda yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah mewajibkan berihsan
(menyempurnakan sesuatu dengan baik) dalam semua perkara.” (Hadis riwayat
Muslim)
Imam al-Asfahani mentafsirkannya
ihsan dalam muamalat dengan dua pengertian, yaitu memberikan limpahan nikmat
untuk kesejahteraan dan kepentingan pihak lain, selain mempertingkatkan kualiti
kerja.
Pengertian pertama dapat dilihat dengan jelas melalui
aktiviti kekeluargaan dan kemasyarakatan dalam komuniti Islam.
Dalam lingkungan kekeluargaan, setiap
unit dalam keluarga yaitu: ibu, bapak, anak, suami dan isteri mempunyai
tanggungjawab serta rasa saling hormat menghormati.
Seorang anak tidak boleh sama sekali
mengecewa dan mengecilkan hati ibu bapaknya. Ibu bapak pula hendaklah mendekati
anak dengan penuh kasih sayang dan mendidik supaya mereka menjadi Muslim yang bertakwa
kepada Allah.
Wujudnya keadaan itu, cita-cita
melahirkan institusi keluarga yang menepati slogan rumahku syurgaku pasti
tercapai dengan izin Allah.
Dalam lingkungan kemasyarakatan
pula, setiap anggota masyarakat perlu mempunyai rasa tanggungjawab seperti
sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: “Seseorang Muslim adalah bersaudara dengan
seorang Muslim yang lain. Janganlah kamu menzaliminya, jangan pula menghinanya
dan juga jangan merendahkan mereka.” (Hadis riwayat Muslim)
Maksud ihsan adalah menyeluruh,
bukan sekadar kepada fakir miskin, malah meliputi segala aspek kehidupan dan
diberikan kepada semua lapisan manusia tidak kira kaya atau miskin.
Golongan fakir miskin dan anak yatim
seharusnya diberikan bantuan sewajarnya bagi meringankan kesusahan mereka.
Begitu juga orang kaya atau berada yang ditimpa kesusahan diberikan bantuan
sepatutnya bagi melepaskan mereka daripada belenggu kesempitan hidup
Orang sakit pula hendaklah dibantu
dengan mengiringnya ke hospital untuk mendapat rawatan.
Begitulah antara makna konsep ihsan
yang wajib diterapkan dalam pentas kehidupan manusia untuk mewujudkan
masyarakat harmoni, sejahtera serta diredai Allah.
Pengertian kedua daripada skop ihsan dalam muamalat
yakni mempertingkatkan kualiti kerja amat bergantung kepada dua syarat utama yaitu:
ilmu pengetahuan menyeluruh dan ketrampilan kemahiran yang mantap. Tanpa
kedua-dua syarat itu, tidak akan lahir perbuatan atau kerja yang berkualiti
ihsan.
Tiga
Aspek Pokok Dalam Ihsan
Ihsan meliputi tiga aspek yang fundamental. Ketiga hal
tersebut adalah ibadah, muamalah, dan akhlak. Ketiga hal inilah yang menjadi
pokok bahasan dalam ihsan.
1. Ibadah
Kita berkewajiban ihsan dalam beribadah, yaitu dengan
menunaikan semua jenis ibadah, seperti shalat, puasa, haji, dan sebagainya
dengan cara yang benar, yaitu menyempurnakan syarat, rukun, sunnah, dan
adab-adabnya. Hal ini tidak akan mungkin dapat ditunaikan oleh seorang hamba,
kecuali jika saat pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut ia dipenuhi dengan cita
rasa yang sangat kuat (menikmatinya), juga dengan kesadaran penuh bahwa Allah
senantiasa memantaunya hingga ia merasa bahwa ia sedang dilihat dan
diperhatikan oleh-Nya. Minimal seorang hamba merasakan bahwa Allah senantiasa memantaunya,
karena dengan inilah ia dapat menunaikan ibadah-ibadah tersebut dengan baik dan
sempurna, sehingga hasil dari ibadah tersebut akan seperti yang diharapkan.
Inilah maksud dari perkataan Rasulullah saw yang berbunyi,
“Hendaklah kamu menyembah Allah seakan-akan engkau
melihat-Nya, dan jika engkau tak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia
melihatmu.”
Kini jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya arti dari
ibadah itu sendiri sangatlah luas. Maka, selain jenis ibadah yang kita sebutkan
tadi, yang tidak kalah pentingnya adalah juga jenis ibadah lainnya seperti
jihad, hormat terhadap mukmin, mendidik anak, menyenangkan isteri, meniatkan
setiap yangmubah untuk mendapat ridha Allah, dan masih banyak lagi. Oleh karena
itulah, Rasulullah saw. menghendaki umatnya senantiasa dalam keadaan seperti
itu, yaitu senantiasa sadar jika ia ingin mewujudkan ihsan dalam ibadahnya.
2.
Muamalah
Dalam muamalah, ihsan dijelaskan Allah swt. pada surah
An-Nisaa’ ayat 36, yang berbunyi sebagai berikut, “Sembahlah Allah dan janganlah
kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun dan berbuat baiklah kepada dua orang
ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang
dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.”
Kita sebelumnya telah membahas bahwa ihsan adalah
beribadah kepada Allah dengan sikap seakan-akan kita melihat-Nya, dan jika kita
tidak dapat melihat-Nya, maka Allah melihat kita. Kini, kita akan membahas
ihsan dari muamalah dan siapa saja yang masuk dalam bahasannya. Berikut ini
adalah mereka yang berhak mendapatkan ihsan tersebut:
a. ihsan kepada kedua orang tua
b. ihsan kepada karib kerabat
c. ihsan kepada anak yatim dan fakir miskin
d. ihsan kepada tetangga dekat, tetangga jauh, serta teman sejawat
e. ihsan kepada ibnu sabil dan hamba sahaya
f. ihsan dengan perlakuan dan ucapan yang baik kepada manusia
g. ihsan dalam hal muamalah
h. ihsan dengan berlaku baik kepada binatang
b. ihsan kepada karib kerabat
c. ihsan kepada anak yatim dan fakir miskin
d. ihsan kepada tetangga dekat, tetangga jauh, serta teman sejawat
e. ihsan kepada ibnu sabil dan hamba sahaya
f. ihsan dengan perlakuan dan ucapan yang baik kepada manusia
g. ihsan dalam hal muamalah
h. ihsan dengan berlaku baik kepada binatang
3.
Akhlak
Ihsan dalam akhlak adalah: buah dari ibadah dan
muamalah. Seseorang akan mencapai tingkat ihsan dalam akhlaknya apabila ia
telah melakukan ibadah seperti yang menjadi harapan Rasulullah dalam hadits
yang telah dikemukakan di awal tulisan ini, yaitu menyembah Allah seakan-akan
melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah
senantiasa melihat kita. Jika hal ini telah dicapai oleh seorang hamba, maka
sesungguhnya itulah puncak ihsan dalam ibadah. Pada akhirnya, ia akan berbuah
menjadi akhlak atau perilaku, sehingga mereka yang sampai pada tahap ihsan
dalam ibadahnya akan terlihat jelas dalam perilaku dan karakternya.
Jika kita ingin melihat nilai ihsan pada diri
seseorang —yang diperoleh dari hasil maksimal ibadahnya– maka kita akan
menemukannya dalam muamalah kehidupannya. Bagaimana ia bermuamalah dengan
sesama manusia, lingkungannya, pekerjaannya, keluarganya, dan bahkan terhadap
dirinya sendiri. Berdasarkan ini semua, maka Rasulullah saw. mengatakan dalam
sebuah hadits, “Aku diutus hanyalah demi menyempurnakan akhlak yang mulia.”


